• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Rabu, Oktober 28, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Sistem Coretax Gagal Berfungsi Optimal dan Dikembalikan ke DJP Online

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
15 Februari 2025
Sistem Coretax Gagal Berfungsi Optimal dan Dikembalikan ke DJP Online

Sistem Coretax Gagal Berfungsi Optimal dan Dikembalikan ke DJP Online

Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM — Sistem Coretax gagal berfungsi secara optimal. DPR dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sepakat untuk mengaktifkan kembali sistem lama, DJP Online, guna memastikan layanan perpajakan tetap berjalan lancar.

Sistem Coretax sebelumnya digadang-gadang menjadi “tulang punggung baru” dalam administrasi perpajakan. Sistem ini menelan dana investasi sebesar Rp1,3 triliun. Namun bermasalah. Bahkan terancam dianggap gagal. Dalam kasus ini, Direktur Jenderal Pajak, Suryo Utomo, berpotensi menghadapi sanksi akibat kegagalan sistem yang seharusnya meningkatkan efisiensi dan penerimaan pajak negara.

Direktur Kebijakan Publik Center of Economics and Law Studies (Celios), Media Wahyudi Askar, menilai kegagalan Coretax bisa berujung pada sanksi administrasi bagi Dirjen Pajak. Hal ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, di mana kegagalan layanan publik dapat berujung pada teguran hingga pencopotan jabatan.

Bahkan, pada pasal 55 dan 56 dalam UU yang sama juga membuka kemungkinan sanksi pidana dan denda jika kegagalan layanan publik tersebut menyebabkan kerugian negara atau dampak negatif bagi masyarakat. “Evaluasi menyeluruh harus dilakukan guna menentukan apakah ada kelalaian atau penyalahgunaan kewenangan dalam pengadaan Coretax,” katanya.

Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia (IWPI), Rinto Setiyawan, menilai bahwa kesalahan fatal terjadi dalam perencanaan dan implementasi Coretax. Menurutnya, setiap pengembangan perangkat lunak harus melalui tiga tahap utama: pertama, penetapan proses bisnis yang jelas; kedua, penyusunan regulasi yang mendukung; dan ketiga, pengembangan teknologi yang sesuai.

Namun, dalam kasus Coretax, tahapan ini dilakukan secara terbalik. Pemerintah lebih dulu menerbitkan Perpres 40/2018 sebelum memastikan proses bisnis yang solid. Selain itu, teknologi yang digunakan berasal dari sistem perpajakan Austria, yang jauh lebih sederhana dibandingkan dengan Indonesia. Adaptasi sistem asing tanpa penyesuaian yang matang dinilai menjadi salah satu penyebab utama kegagalan Coretax.

Rinto menekankan bahwa tujuan utama Coretax seharusnya meningkatkan penerimaan pajak, bukan sekaligus memperbaiki sistem perpajakan yang sudah ada. “Tanpa perbaikan mendasar dalam proses bisnis perpajakan, sistem baru apa pun tidak akan berfungsi secara optimal,” katanya.

Dirjen Pajak, Suryo Utomo, mengakui adanya kendala teknis dalam penerapan Coretax sejak diluncurkan pada 1 Januari 2025. Meskipun sistem ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi administrasi perpajakan, berbagai gangguan yang terjadi menimbulkan kekhawatiran akan berpengaruh pada penerimaan negara.

Namun, Suryo menegaskan bahwa hingga saat ini belum terlihat dampak signifikan terhadap penerimaan pajak akibat gangguan pada Coretax. Menurutnya, evaluasi menyeluruh baru dapat dilakukan setelah periode pelaporan pajak berjalan sepenuhnya.

“Dampaknya baru bisa kita lihat nanti, karena laporan pajak Januari baru masuk di Februari,” ujarnya.

Sementara itu, DPR dan DJP kini memilih langkah pragmatis dengan menjalankan sistem perpajakan secara paralel, yaitu menghidupkan kembali DJP Online. Langkah ini bertujuan untuk memastikan tidak ada gangguan dalam administrasi perpajakan hingga perbaikan pada Coretax benar-benar selesai.***

Sumber: Inilah.com
Tags: finansialPajak
Share4Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Serambi 2025 Layanan penukaran uang rupiah untuk idulfitri
Ekonomi

BI Rate Agustus 2026 Ditahan 5,75%, Bank Indonesia Buka Peluang Kenaikan ke 6,25% Akhir Tahun

...

Read moreDetails
PPh 22 Marketplace Ditunda, Ini Alasan Purbaya

PPh 22 Marketplace Ditunda, Ini Alasan Purbaya

OJK Riau Edukasi 350 Siswa Demi Generasi Cakap Finansial

OJK Riau Edukasi 350 Siswa Demi Generasi Cakap Finansial

BRI Apresiasi Layanan Pensiunan Demi Jaga Loyalitas Nasabah

BRI Apresiasi Layanan Pensiunan Demi Jaga Loyalitas Nasabah

Dana TKD Riau Tersalur Rp9,39 Triliun, Turun 15,51 Persen

Dana TKD Riau Tersalur Rp9,39 Triliun, Turun 15,51 Persen

DJPb Catat Realisasi Pendapatan Daerah di Riau Melonjak hingga 31 Persen

DJPb Catat Realisasi Pendapatan Daerah di Riau Melonjak hingga 31 Persen

Next Post
Harga Emas Antam Turun dan Hapus Rekor Kenaikan Tertinggi yang Sempat Sentuh Rp1,7 per Gram

Harga Emas Antam Turun dan Hapus Rekor Kenaikan Tertinggi yang Sempat Sentuh Rp1,7 per Gram

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.