Kisah Ayah yang Optimis Rintis Usaha Ayam Geprek di Tengah Pandemi

Selasa, 18 Agustus 2020 12:10
Kisah Ayah yang Optimis Rintis Usaha Ayam Geprek di Tengah Pandemi
Ayam Geprek Ayah – Foto: Oong / Bertuahpos

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Banyak usaha gulung tikar ketika wabah pandemic Covid-19 merebak. Terlebih lagi usaha makanan yang memerlukan jarak yang dekat. Walaupun beralih secara daring, tetap saja, tak ada jual beli. Memang menyakitkan bagi pengusaha kecil atau UMKM.

Namun tak menyerah dengan keadaan, Doddy seorang warga kelurahan Sialangmunggu, Tampan, Pekanbaru, yang sehari-hari bekerja di perusahaan parfum merek terkenal ini yakin membuka usaha ayam geprek di bilangan Cipta Karya tampan.

Advertisement

Sejak wabah melanda, perusahaah tempatnya bekerja mulai merumahkan karyawan, berikut mengurangi amada distribusi. Hal ini katanya dilakukan untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu perusahaan tutup. Doddy pun memutar otak untuk menghidupi keluarga. 

“Dalam pikiran tidak pernah bisnis kuliner kayak gini bang. Jadi, sekitar enam bulan lalu, adek sepupu yang bekerja di tempat penjualan ayam goreng, menyarankan kalau ada modal kata nya bukak lah, bang. Untungnya lumayan,” kisah pria yang memberi lebel usahanya Ayam Geprek Ayah itu satu sore di pekan kedua Agustus 2020.

Baca: Membludak, Pendaftaran Pedagang CFD Pekanbaru Ditutup

Ayam Geprek Ayah – Foto: Oong / Bertuahpos.

Enam bulan berlalu sejak wabah Covid-19, pas ketika perusahaan sudah mulai goyang, terpikir kembali mengikuti saran sepupunya. Doddy pun segera mengambil langkah seribu belajar masak ayam geprek selama 3 hari di kota Padang. Dengan modal seadanya. 

“Kalau masalah dana, kami ada tabungan keluarga, Tiap bulan kami menabung Rp 200 ribu dan sudah berjalan 3 tahun. Dari situlah modal nya kekurangan nya di bantu orang tua dan saudara,” ungkap Doddy meyakinkan.

Dengan varian sambal terasi dan sambal biasa, kini usahanya sudah berjjalan kurang dari sebulan. Ke depan ia sudah merancang beberapa persiapan. “Karena beberapa konsumen ada yang meminta ayam Rp 7000, maka kita akan buat level harga. Harga Rp 13000 plus nasi, dan Rp 9000 ayam saja. Kemudian harga Rp 10.000 plus nasi dan Rp 7000 untuk harga satuan ayamnya,” yakin lelaki 45 tahun ini.

Ketika ditanya kenapa berlabel Ayan Geprek Ayah, katanya karena  banyak kawan sekantor dulu yang memanggil Ayah. “Tapi yang pasti, karena anak-anak di rumah memanggil saya dengan sebutan ayah. Biar lebih mesra begutu”, kata pria asli Bukittinggi yang besar di Padang ini. 

Doddy pun yakin ke depan usahanya akan berkembang dengan sistem daring, “Sekarang kita tinggal promosi dengan sistem daring atau memanfaatkan ojol seperti Go Food. Kita harap pola ini akan mendatangkan jual beli yang lebih baik,” harap Doddy. (bpc5)