Sejauh Mana Dukungan Keluarga Mengatasi Depresi Pasca-stroke?

Rabu, 02 September 2020 12:17
Sejauh Mana Dukungan Keluarga Mengatasi Depresi Pasca-stroke?

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Sejauh mana dukungan keluarga mampu mengatasi depresi pasca-stroke? Memang, tak sedikit pasien stroke lama peyembuhannya. Apalagi tak banyak yang teredukasi dengan rehabilitasi medis. 

Hal ini biasanya karena cenderung keluarga lebih banyak menggunakan metode pengobatan alternatif dan herbalis. Masih syukur bukan dukun. Bagi yang mencoba rehabilitasi medis, maupun alternatif dukungan keluarga penting untuk proses penyembuhan.

Advertisement

“Depresi setelah stroke, bisa berupa gangguan mental, atau menangis-meratapi nasib, akan  memperlambat penyembuhannya. Makanya harus ada support family. Itulah kenapa stroke bukan sakit individu. Server-nya sekeluarga,” ungkap dokter Kobal Sangaji spesialis rehab medic RS Awal Bross Soedirman Pekanbaru kepada Bertuahpos.

Dia mengatakan, terutama terhadap pasien stroke yang mengalami lock in syndrome. Biasanya cenderung lebih banyak diam dan hanya menggunakan isyarat mata untuk mengatakan sesuatu. Hal ini sudah termasuk dalam golongan kecacatan tinggi.

Baca: Terbelit Kasus Hukum, Masyarakat Harus Melek Informasi

“Kalau sudah kaku itu susah. Karena terbentuk pola baru. Makanya 75% itu sembuh, namun 25% alami kecacatan,” kata dokter yang pernah bekerja di Yayasan Kanker Wisnuwardhana ini (2000-2002).

Rehab Tradisional

Dokter Kobal menjelaskan, bagi pengidap stroke biasanya akan selalu mengalami masalah saat istirahat. Salah satu langkah penanganannya bisa dilakukan dengan rehabilitasi tradisional.

Ketika anggota tubuh terkena stroke sebelah kanan, maka sisi yang kanan yang didekatkan dengan dinding kamar atau tempat istirahat. Agar tangan-kaki sisi kirinya dapat bergerak. 

“Tapi ada cara terbaru, malah sisi yang sakit diarahkan ke dinding. Dua-duanya betul,” ulasnya.

Ceritanya begini, kata Kobal ada penderita stroke di luar negeri yang menderita stroke sebelah kanan, kemudian dia jatuh dan tangan kirinya patah. Akhirnya tangan kiri digips, ia terpaksa gunakan tangan kanan untuk beraktivitas. Akhirnya tangan kanannya berfungsi baik. 

“Makanya sekarang kalau menuntun penderita stroke sebelah kanan, justru anggota tubuh sebelah kanannya yang dipaksa bergerak. Mulai mobilisasi tiduran,  kemudian latihan duduk, latihan berdiri, kemudian latihan transfer. Dari tempat tidur ke kursi,” ungkapnya.

Alat Rehab Medis Bukan Radiasi

Sementara itu, penanganan lain, selain rehabilitasi tradisional penderita stroke bisa dilakukan dengan rehabilitasi medis. Dia menekankan, rehab medis tidak menggunakan radiasi elektronik, dan dijamin aman.

“Alat terapi yang digunakan insyaallah aman, bukan radiasi, karena sudah penelitian dalam waktu lama. Sinar X memang nggak boleh, paling panas saja. CT Scan juga nggak boleh sering-sering,” sambungnya. (bpc5)