Menderita Karena Bumbu: Rempah Penyambung India dan Cina

Rabu, 21 Oktober 2020 15:05
Menderita Karena Bumbu: Rempah Penyambung India dan Cina

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Keberadaan rempah telah menggerakan sejarah Nusantara selama lebih dari dua ribu tahun hingga masuk zaman modern.

Menurut catatan Profesor Singgih Tri Sulistiyono dari Departemen Sejarah Universitas Diponegoro (Undip), orang-orang dari Nusantara telah berlayar hingga Madagaskar dan pantai timur Afrika.

Advertisement

Dalam pelayarannya, orang Nusantara membawa berbagai komoditi dagang, seperti permata, tembikar, tembaga, besi, emas, dan tentu saja, rempah.

Kemudian, India tertarik berdagang lewat jalur laut ke Cina setelah adanya pelayaran orang-orang Nusantara.

Baca: RS di Pekanbaru Membandel, Enggan Laporkan UPL

“Padahal, sebelumnya pedagang India itu berlayar ke Mesir, ataupun lewat jalur darat (Jalur Sutera) ke Cina,” kata Singgih.

Setelah ada jalur laut, lanjut Singgih, pedagang India yang awalnya mencari emas ke Cina, malah menemukan rempah di Nusantara. Rempah kemudian malah menjadi komoditas utama perdagangan India-Cina.

“Bahkan, jalur laut antara India dan Cina ini, daripada disebut Jalur Sutera, lebih cocok disebut Jalur Rempah,” jelas Singgih.

Guru Besar Sejarah Universitas Andalas, Profesor Gusti Asnan mencatat rempah digunakan Cina dan India sebagai penyegar nafas, pengobatan, dan makanan.

Rempah kemudian berkembang menjadi lambang kemakmuran di Eropa, Arab, dan Cina. Hal yang sama membawa ekspedisi bangsa barat untuk menemukan sumber dari lambang kemakmuran ini.

Akhirnya dapat ditebak. Bangsa barat menemukan Nusantara sebagai daerah sumber rempah.

Bangsa barat kemudian menimbulkan nestapa di rakyat karena mereka menguasai dan memonopoli rempah demi kemakmuran mereka sendiri.

“Bisa kita sebut, kehadiran rempah rempah malah menimbulkan kenestapaan kepada rakyat pemiliknya, seperti di Maluku,” jelas Gusti Asnan.

“Masyarakat di Maluku dieksploitasi oleh Portugis dan kemudian VOC demi mendapatkan dan memonopoli rempah,” pungkasnya. (bpc2)