Catatan Sejarah 13 Februari: Dibantai dan Dijadikan Budak, Australia Akhirnya Minta Maaf Kepada Suku Aborigin

Kamis, 13 Februari 2020 09:26
Catatan Sejarah 13 Februari: Dibantai dan Dijadikan Budak, Australia Akhirnya Minta Maaf Kepada Suku Aborigin

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – 13 Februari 2008, Pemerintah Australia akhirnya meminta maaf kepada masyarakat Aborigin.

Sejak abad 19, kaum kulit putih datang ke Australia dan menganggap derajatnya lebih tinggi dari suku asli Australia, Aborigin. Mereka melakukan pembantaian kepada suku Aborigin dan menganggap Aborigin tak pantas hidup.

Advertisement

Kemudian, sejak tahun 1869 sampai 1969, para kulit putih Australia ini memisahkan anak-anak Aborigin dan menempatkan anak-anak ini dibawah pengawasan pemerintah. Dalam sebuah laporan, disebutkan jumlah anak Aborigin yang dipaksa berpisah dengan keluarganya ada 100.000 anak.

Nasib anak-anak Aborigin ini juga mengenaskan. Mereka tak hanya dipisahkan dari orangtuanya, namun juga mengalami penganiayaan, kekerasan fisik, hingga pemerkosaan.

Baca: DBD Sudah Bunuh 215 Warga Sri Lanka, 71 Ribu Masuk Rumah Sakit

Salah satu penelitian dari Human Rights dan Equal Opportunity Commission juga menuliskan bahwa anak-anak Aborigin mengalami kekerasan dan penyiksaan selama dibawah orang-orang kulit putih. Anak-anak Aborigin ini kemudian disebut generasi yang tercuri (stolen generations).

Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd pada 13 Februari 2008 akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Aborigin. Dia mengatakan bahwa permintaan maaf ini sebagai usaha menghilangkan noda besar dari jiwa Australia. (bpc2)