Beromset Rp 1,2 M, Petani Cabe Tapung Hulu Bikin Bupati Kampar Menangis Haru

Rabu, 24 Juli 2013 10:39
BERTUAHPOS, TAPUNGHULU – Usaha perladangan cabe di Desa Danau Lancang Kecamatan Tapung Hulu yang dibikin oleh enam kelompok tani alumni Program Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Karya Nyata Kubang Jaya, berbuah manis. Duit bersih yang mereka raup dari usaha ladang cabe di lahan seluas 3,5 hektar itu mencapai Rp 1,2 miliar. 
 
Itu hitungan sampai pertengahan Juni lalu. “Kami masih bisa panen lagi hingga pertengahan Agustus nanti. Minimal Rp 50 juta masih bisa kami peroleh,” cerita Muslim, salah seorang ketua kelompok tani dari enam kelompok itu, waktu berkunjung ke perkampungan teknologi Telo di Desa Muara Uwai Kecamatan Bangkinang, Senin (22/7/13). 
 
Dapat duit bergepok-gepok membikin kocek masing-masing ketua kelompok ini, Muslim, Prianto, Ali Usman, Sukirman, Ishak Hasibuan dan Ismail, menggelembung. Apa yang selama ini mereka dambakan, bisa mereka beli. Mulai dari pertapakan rumah, sepeda motor, kebun kelapa sawit hingga mobil kinclong. 
 
“Kami tak pernah menyangka kejadiannya seperti ini. Sebab yang ada dalam benak kami sejak awal menanam cabe itu Januari lalu adalah merawat tanaman cabe itu supaya subur. Dan kami juga tak pernah membayangkan hasil panen bisa kami jual hingga Rp 40 ribu. Sebab dijual Rp 20 ribu saja perkilogram, untungnya sudah mantap,” kata Ali Usman. 
 
Sukses berladang cabe di lahan 3,5 hektar tadi tak membikin mereka terlena. Yang ada justru, luasan lahan tanaman cabe tahap kedua, ditambah hampir dua kali lipat. “Lahan masih berstatus pinjam. Yang punya lahan tiga orang. Mereka juga ikutan bertanam cabe di lahan itu. Insya Allah, pada 15 Agustus nanti, kami sudah mulai menanam,” cerita Muslim. 
 
Modal untuk lahan tahap dua ini kata Muslim tidak lagi hasil utangan. Tapi justru duit yang disisikan dari hasil bertanam cabe tahap pertama itu. “Nilainya sekitar Rp 250 juta. Kelak di tahap tiga, kami akan membuka lahan cabe 8 hektar. Separuh dari lahan itu, punya kami,” katanya. 
 
Selain untuk mendapat untung yang lebih besar, perluasan lahan cabe itu kata Muslim juga sekaligus menambah luasan lapangan kerja, khususnya bagi ibu-ibu di kampung itu. Sebab di tahap pertama saja kata Muslim, mereka sanggup menggaji sekitar 50 orang ibu-ibu. “Dan kalaupun lahan cabe makin luas, kami tak khawatir hasilnya akan dikemanakan. Sebab Riau masih sangat butuh cabe. Andai kami buka lahan 20 hektar pun, hasilnya masih kurang untuk membutuhi kebutuhan di Riau,” Muslim optimis. 
 
Sukses enam kelompok tani ini sontak menyebar ke kampung danau Lancang, khususnya di dusun V, lokasi perladangan cabe itu. Tergiur hasil miliaran tadi membikin orang kampung rame-rame pengen menanam cabe pula. “Ada sekitar 30 orang yang datang ke kami. Mereka minta diajari cara bertanam cabe dan kemudian ingin diajak masuk kelompok,” cerita Ali Usman. 
 
Jika makin hari anggota terus bertambah, Muslim dan rekan-rekan sudah berencana membikin koperasi khusus petani cabe. “Biar lebih terarah. Khususnya soal teknis hingga manajemen keuangan,” Muslim beralasan. 
 
Mendengar keberhasilan para alumni P4S itu, Rahmad Jevary Juniardo mengaku salut, bangga sekaligus terharu. “Ini adalah perolehan yang luar biasa dari alumni P4S. Gembelengan dan keseriusan mereka menjalani pelatihan, berbuah manis,” kata Ketua Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kabupaten Kampar ini. 
 
Andai saja generasi muda mau mencotoh apa yang dilakukan para petani tadi kata bendahara P4S ini, maka misi program zero kemiskinan yang diusung Pemkab Kampar, akan cepat terwujud dan misi Granat di Kampar juga akan terbantu. “Sebab bertani sebenarnya adalah pekerjaan mulia, persis seperti tradisi leluhur kita sejak jaman dulu,” katanya. 
 
Mata Bupati Kampar, Jefry Noer, justru sampai berkaca-kaca saat melihat enam ketua kelompok tani tadi datang bareng ke Perkampungan Teknologi Telo, pakai mobil Xenia anyar, yang dibeli dari hasil panen cabe itu. “Saya salut, Pak Muslim sudah sanggup membeli mobil cash. Saya saja masih beli kredit,” kata Jefry. 
 
Inilah hasil jerih payah yang dilandasi ketulusan dan keseriusan itu. “Mudah-mudahan saudara-saudaraku bisa menjadi motivator petani-petani lain di Kampar ini. Sebab misi zero kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh, adalah misi kita bersama, bukan misi seorang Jefry Noer,” pungkasnya. 
 
Bersama Kepala Badan Pelatihan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPPKP) Kampar, Aliman Makmur dan Kadis Pertanian dan Peternakan Kampar, Cokroaminoto, Jefry Noer dan enam petani itu foto bareng di kampung teknologi tadi. Wajah-wajah mereka Nampak ceria, seceria hati enam petani ini menanti masa tanam tahap kedua.
 
(riauterkini.com)