Cerita Pedagang Pasar Bawah Diambang Ancaman Gulung Tikar

Minggu, 12 Januari 2020 14:40

BERTUAHPOS.COM – Pedagang di Pasar Bawah atau pasar wisata Pekanbaru semakin khawatir dengan kelangsungan usaha mereka di lokasi ini. Jual beli tidak sebaik dulu. Mereka cemas jika sampai harus gulung tikar.

Menurunnya transaksi jual beli di pasar wisata ini mulai terlihat sejak 2016 lalu. Walau menurun ketika itu para pedagang belum begitu khawatir sebab pada hari dan momentum tertentu angka penjualan masih tergolong baik.

2017 akhir penurunan transaksi di pasar ini semakin terasa terutama mereka yang menjual barang tahan lama, seperti aksesoris, tas, tali pinggangnya dan kacamata.

“Kadang sehari itu cuma laku 2 sampai 3 barang. Kondisi susahnya sudah sangat terasa,” kata Saliwardi (40), seorang pedagang di pasar itu, Minggu, 12 Januarius 2019.

Baca: Pasar Cik Puan, Sampai Kapan Terbengkalai?

Belanjut pada tahun 2018, Mistiana (36) seorang pedagang di Pasar Bawah bercerita bahwa kegiatan jual beli di sini semakin terpuruk. Karpet-karpet yang dia jual tak lagi selaris dulu.

“Seminggu paling laku 1 sampai 2. Kalau dulu lumayan. Saya juga harus bayar sewa kios kan. Jadi susah juga kalau jualan udah nggak laku lagi,” sebutnya.

Beberapa pedagang yang sejak dulu mencari nafkah di pasar ini dengan cara menyewa, memilih untuk memutus kontrak mereka. Mungkin pindah ke tempat lain, atau memang berhenti sama sekali dan pindah profesi.

“Kalau saya ada 2 kios di Pasar Bawah yang saya sewakan. Tapi sejak pertengahan 2019 sudah tak ada yang mau ambil. Kan yang lama sudah berhenti. Mereka merasa berat untuk bayar sewa,” ujar Laksmi (41), yang menyewakan kios di pasar itu.

Semakin ke sini, kondisi jual beli semakin tidak bisa diprediksi. Juli (40) seorang pria yang membuka kios lampu hias dan manik-manik impor di pasar ini menyebut, biasanya transaksi paling tinggi terjadi pada selama Ramadan hingga lebaran Idul Fitri.

“Lebaran tahun kemarin nyari Rp50 juta sebulan udah nggak masuk. Itu sudah parah kondisinya. Sebelumnya seminggu kita bisa masuk lebih Rp50 juta,” katanya.

Upaya terakhir yang dilakukannya Manan (60), dia terpaksa menjual kiosnya. Selain tidak lagi bisa menutupi kebutuhan, jual beli semakin tidak menjanjikan di lokasi ini. Sementara dia harus mengeluarkan sejumlah uang untuk tambahan modal baru.

“Tas, dompet, yang sudah lama itukan nggak layak jual, jadi kita harus beli baru dengan modal baru. Sementara kita juga punya cicilan di koperasi. Nah penghasilan dari jual beli ini saja, untuk bayar cicilan tiap bulan tak cukup. Jadi diskusi dengan keluarga, ya udah kita jual,” ungkapnya. (bpc3)