Pemerintah Sri Lanka Sita Bahan Pangan Akibat Krisis Ekonomi

Minggu, 05 September 2021 11:41
Pemerintah Sri Lanka Sita Bahan Pangan Akibat Krisis Ekonomi

BERTUAHPOS.COM — Pemerintah Sri Lanka mengumumkan darurat krisis ekonomi yang memaksa pihak berwenang sewaktu-waktu dapat menyita stok makanan pokok serta menetapkan harga tertinggi, demi menahan inflasi karena krisis valuta asing.

Hal itu ditempuh untuk mengamankan pasokan bahan makanan, seperti gula dan beras dengan harga yang wajar. Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa mengumumkan keadaan darurat di bawah peraturan keamanan publik pada pekan lalu.

Pemerintah menunjuk seorang mantan jenderal angkatan darat sebagai komisaris layanan penting, yang akan menyita stok makanan dari pedagang serta pengecer, lalu menentukan harganya, sebagaimana dilansir dari CNNIndonesia.com.

“Petugas yang berwenang akan dapat mengambil upaya-upaya untuk menyediakan bahan makanan penting dengan harga murah kepada masyarakat, dengan membeli stok bahan makanan penting termasuk padi, beras dan gula,” jelas pernyataan resmi media kepresidenan Sri Lanka, dikutip Reuters, Rabu 1 September 2021.

Baca: Abu Darda Sumbang Rp1 M untuk Rumah Oksigen

“Barang-barang tersebut akan dibanderol dengan harga yang dijamin pemerintah atau berdasarkan nilai bea cukai barang impor untuk mencegah perbedaan (harga) pasar,” lanjut pernyataan itu.

Usai pengumuman itu, pemerintah mulai menyita stok gula dan beras dari gudang-gudang. Mereka akan melepasnya di pasar terbuka dengan harga yang sudah ditentukan.

“Pemerintah telah melakukan lebih dari 1.000 penggerebekan selama beberapa pekan terakhir untuk menyita stok bahan dari gudang di seluruh negeri,” terang Menteri Layanan Koperasi, Lasantha Alagiyawanna.

Ia juga mengatakan pemerintah mulai menetapkan harga eceran maksimum untuk beras dan gula pada hari Kamis kemarin. Meski begitu, pemerintah setempat menampik terjadi krisis pangan. 

“Pengendalian harga sangat penting saat ini. Tapi kami berharap tidak dalam jangka panjang. Kami tidak melihat kekurangan pangan di negara ini,” imbuh Alagiyawanna kepada media.

Pemerintah justru mengatakan menerima laporan bahwa pedagang menimbun bahan makanan pokok, seperti padi, beras dan gula dalam jumlah besar, dengan tujuan dijual lagi dengan harga lebih tinggi.

Sementara itu, pemilik toko khawatir tindakan yang lebih ketat akan berdampak tidak adil terhadap mereka.

“Kami menjual dengan harga yang diberikan pedagang grosir. Pemilik toko kecil juga harus mencari nafkah dan harga kami diperas, sehingga kami hampir tidak punya apa-apa,” kata pemilik toko kelontong W.A. Jayasekera.

Sri Lanka tengah menghadapi krisis ekonomi hingga krisis pangan. Pandemi Covid-19 disebut turut memperburuk kondisi negara ini. (bpc2)

Berita Terkini

Sabtu, 25 September 2021 19:22

Disepakati Keluarga, Tim SAR Hentikan Pencarian Nelayan yang Diseret Buaya di Rohil

Pencarian Nelayan Rohil

Sabtu, 25 September 2021 19:15

Fitra Riau Soroti Sistem Politik Anggaran Pemko Pekanbaru yang Tak Sehat

Politik Anggaran, Fitra Riau

Sabtu, 25 September 2021 17:16

Kisah Joel Morrison Temukan Benda Aneh di Makam Berusia 100 Tahun

Lifestyle, Mistis, Horor

Sabtu, 25 September 2021 16:48

Kapan Kartu Prakerja Gelombang 22 Dibuka?

Kartu Prakerja Gelombang 22

Sabtu, 25 September 2021 16:09

Video: Cerita Regi Faula Sari, Fisioterapi Tim Sepakbola PSPS Riau

PSPS Riau, Fisioterapi

Sabtu, 25 September 2021 15:12

Insiden di Lokasi IPAL, Ini Penjelasan Satker PUPR

IPAL Pekanbaru

Sabtu, 25 September 2021 14:16

Setahun Tol Permai Beroperasi, HK Catat 2 Juta Lebih Lalu Lintas Kendaraan

Setahun Tol Permai