MUI Minta Perpres Miras Dicabut, Bertentangan dengan Fatwa

Selasa, 02 Maret 2021 10:36
MUI Minta Perpres Miras Dicabut, Bertentangan dengan Fatwa

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Majlis Ulama Indonesia [MUI] secara tejas menolak Perpres investasi miras yang disetujui pemerintah, karena dianggap bertentangan dengan fatwa MUI Nomor 11 Tahun 2009 tentang Alkohol.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh meminta Perpres itu dicabut. “Komitmen MUI jelas. Cabut aturan yang melegalkan miras untuk ketertiban umum dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Niam lewat pesan singkat kepada Republika.co.id, yang dukutip Bertuahpos.com, Selasa 2 Maret 2021.

Advertisement

Salah satu alinea Fatwa MUI Nomor 11 Tahun 2009 tentang Alkohol merekomendasikan pemerintah agar melarang peredaran minuman beralkohol di tengah masyarakat. 

“Dengan tidak memberikan izin pendirian pabrik yang memproduksi minuman tersebut, dan tidak memberikan izin untuk memperdagangkannya, serta menindak secara tegas pihak yang melanggar aturan tersebut,” bunyi rekomendasi itu sebagaimana dikutip Niam. 

Baca: Hari Pertama Masuk Kerja PNS Pemprov Belum Terlalu Sibuk

BACA JUGA:  MUI Tolak Rencana PAM Swakarsa Listyo Sigit: Nanti Masuk Preman Jadi Premanisme

Pemerintah telah menetapkan industri minuman keras sebagai daftar positif investasi (DPI). Sebelumnya, industri minuman beralkohol merupakan bidang industri tertutup. 

Kebijakan itu tertuang dalam Perpres Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. Beleid yang merupakan aturan turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja ini telah diteken Presiden Joko Widodo dan mulai berlaku per 2 Februari 2021. 

Aturan tersebut merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Dalam Lampiran III Perpres Nomor 10 Tahun 2021 pada angka 31, 32, dan 33 ditetapkan bahwa bidang usaha industri minuman keras mengandung alkohol, alkohol anggur, dan malt terbuka untuk penanaman modal baru di Provinsi Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, dan Papua dengan memperhatikan budaya serta kearifan setempat. (bpc2)