Honda Kritisi Filipina Soal Impor Mobil

Rabu, 20 Januari 2021 11:56
Honda Kritisi Filipina Soal Impor Mobil

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Honda Prospect Motor (HPM) menilai Filipina tidak memiliki alasan cukup kuat dalam penerapan kebijakan baru mengenai safeguard yang mempersulit jalur impor mobil yang dibuat di Indonesia.

Safeguard itu mengatur pengenaan tarif baru berupa uang jaminan yang dikenakan per unit pada mobil penumpang dan komersial ringan yang diimpor utuh dari negara tertentu, termasuk Indonesia.

Advertisement

Uang jaminan itu sebesar 70 ribu peso per unit (Rp20,5 juta) untuk mobil penumpang dan 110.000 peso (Rp32,2 juta) per unit untuk kendaraan komersial ringan. Alasan Filipina menerapkan ini untuk melindungi industri kendaraan lokal.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perdagangan telah menentang safeguard itu dan meminta Filipina memberikan bukti terdapat kerugian serius sehingga kebijakan ini perlu diterapkan. Kemenperin sempat mengatakan ada konsekuensi WTO (World Trade Organization) atas kebijakan ini.

Baca: Wow! Suzuki Over Target di Spectaculer Imlek

BACA JUGA:  Militer Filipina Sebut Perempuan Indonesia Pelaku Bom Bunuh Diri di Jolo

HPM yang cukup lama absen mengekspor mobil produksi lokal usai Freed akhirnya bisa melakukan perdagangan lintas negara ini kembali pada April 2019 menggunakan Brio.

Hanya ada dua negara tujuan ekspor Brio, yaitu Filipina dan Vietnam. Hingga Desember 2020, HPM sudah mengekspor 12.810 unit ke kedua negara tersebut.

“Nah safeguard ini tidak memiliki alasan cukup kuat ya karena industri otomotif ini sebetulnya sudah disepakati sebagai strategi di negara ASEAN,” kata Business Innovation and Sales & Marketing Director HPM Yusak Billy secara virtual beberapa waktu lalu, seperti dilansir dari CNNIndonesia.com.

Kesepakatan yang dimaksud Billy yakni keterikatan Indonesia dan Filipina dalam perjanjian perdagangan bebas di Asean atau Asean Free Trade Agreement (AFTA). Pada perjanjian tersebut disepakati kendaraan yang telah sesuai syarat, maka suatu negara di ASEAN itu boleh mengimpor mobil dengan bea masuk nol persen.

Salah satu syarat AFTA yakni mobil yang diekspor harus memiliki tingkat komponen produksi ASEAN.

“Sebetulnya sudah disepakati sebagai strategi di negara ASEAN sehingga sudah pula disepakati berapa ASEAN lokal kontennya jadi semua sudah ada kesepakatan,” kata dia.

Namun begitu, ia mengaku masih akan mempelajari dampak safeguard bagi penjualan ekspor perusahaan. Billy juga mengapresiasi respons cepat pemerintah Indonesia terkait upaya safeguard tersebut yang dilakukan Filipina.

“Sebetulnya kebijakan proteksi Filipina ini memang bisa berdampak ke ekspor CBU terutama sisi harga. Karena mereka ingin lindungi produksi lokal. Saat ini kami masih pelajari terhadap dampak ekspor CBU,” kata Billy. (bpc2)

Berita Terkini

Minggu, 07 Maret 2021 23:05

The Magic of Thinking Success, Terjual Lebih Dari 30 Juta Eksemplar

Buku Laris Internasional, Sangat Rekomendasi

Minggu, 07 Maret 2021 17:38

Kasus Mafia Vaksin Covid-19 Palsu Dunia Terbongkar

Polisi menangkap empat tersangka.

Minggu, 07 Maret 2021 16:30

KPAI Sebut Banyak Siswa Putus Sekolah Akibat Pandemi Covid-19

“Secara data KPAI ada dua siswa yang meninggal selama semester genap tahun ajaran 2020/2021.”

Minggu, 07 Maret 2021 15:34

113 Izin Alih Fungsi Blok Rokan Dikebut Jelang Agustus 2021

Jelang alih kelola Blok Rokan

Minggu, 07 Maret 2021 15:03

The Magic of Thinking Big, Buku Terbaik Sepanjang Masa

Buku Terbaik Sepanjang Masa, Rekomendasi

Minggu, 07 Maret 2021 14:53

Noto Soeroto, Anomali Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Dalam konsep pikiran Noto, yang harus dicapai adalah Kerajaan Belanda Raya, dengan negara induk (Belanda) dan koloni-koloninya membentuk politik kolonial ideal

Minggu, 07 Maret 2021 14:32

BSI Dorong UMKM di Riau Melek QRIS, Transaksi Digital Bakal Jadi Gaya Hidup

Transaksi digital dengan QRIS

Minggu, 07 Maret 2021 12:30

Pandangan Rocky Gerung Bagaimana Elektabilitas AHY Bangkit Usai ‘Kudeta’

“Saya kira justru itu akan menaikkan simpati pada AHY.”