Butuh Waktu 50 Ribu Tahun untuk Menyusun Buku ini

Senin, 16 Juni 2014 13:31

BERTUAHPOS.COM, Sebuah buku yang merekam tentang kekayaan pengetahuan lokal dan cerita khas masyarakat pribumi Australia di Kawasan Teritori Utara diteritkan pekan ini. Buku ini terbilang sangat istimewa, karena butuh waktu 50 ribu tahun untuk memproduksinya.

Buku berjudul Ngan’gi Plants and Animals (Tumbuhan dan Hewan di Ngan’gi) ini diluncurkan pekan ini di kawasan ujung atas Australia. Buku ini mendokumentasikan berbagai pengetahuan dan cerita tradisional dan adat istiadat dari masyarakat pribumi Australia mengenai lingkungan mereka di daerah Daly River di Kawasan Teritori Utara.
 
Buku yang diterbitkan atas  kerjasama dengan Departemen Pengelolaan Sumber Daya Alam Kawasan Teritori Utara dan Badan Kerjasama Seni, Budaya dan Bahasa Masyarakat Merrepen itu memuat  foto-foto dan ilustrasi lebih dari 560 spesies tanaman dan hewan di kawasan itu.
 
Wakil penulis buku tersebut, Glenn Wightman, mengatakan proses penyusunan buku itu sendiri saja  membutuhkan waktu selama 2 dekade oleh ilmuwan dan kalangan lansia suku Aborigin Ngang’gi.
 
“Beratnya satu kilogram dan penuh dengan pengetahuan berharga,” katanya.
 
“Orang-orang ini  telah mewariskan pengetahuan ini selama puluhan ribu tahun di utara Australia.
 
“Tapi butuh waktu 25 tahun untuk menulis kembali semua pengetahuan masyarakat  yang menguasai kawasan ini,”
 
Alasan lain yang menjadikan penulisan buku ini sangat lama adalah karena versi awal buku ini yang diterbitkan tahun 1998, telah hancur karena banjir  di River Daly.
 
“Ini benar-benar menyedihkan,” kata Wightman.
 
“Ketika itu kami mencetaknya sebanyak 1000 eksemplar namun kita kehilangan lebih dari 900 eksemplar buku karena buku-buku itu disimpan di pusat seni.”
 
“Tapi kita tidak kehilangan seluruh pengetahuan dibuku tersebut,”
 
“Rekan penulis saya, Patricia Marrfurra McTaggart, sempat menyimpan arsip buku itu diatap rumahnya sebelum banjir sehingga kita masih memiliki catatan dari buku tersebut,”
 
Namun buku asli tidak seluruhnya hancur karena banjir.
 
“Yang menyedihkan adalah empat penulis di buku itu telah meninggal dunia selama proses penerbitan buku pertama dan kedua,”  kata Wightman.
 
“Hal ini semakin menekankan alasan pentingnya penerbitan buku ini, yaitu untuk menjaga agar pengetahuan adat dan tradisional itu tetap terjaga meskipun kalangan tetua masyarakat aborigin di kawasan itu meninggal dunia.
 
“Pelestarian kekayaan tradisional mereka ini menjadi kekhawatiran yang banyak disampaikan warga Aborigin lansia yang saya jumpai di kawasan ujung atas dan Kimberley.”
 

“Kami berbicara mengenai kepunahan mamalia dan tumbuhan asli di kawasan itu, namun sekarang kita menghadapi ancaman bencana kepunahan pengetahuan mengenai keragaman hayati dan kebudayaan asli warga aborigin, karena sejarah dari masa pemukiman warga Eropa dan usia dari kalangan lansia aborigin yang masih memahami pengetahuan unik itu,” katanya.(Nabawia.com)

Berita Terkini

Rabu, 08 April 2020 10:38

Perantau Diimbau Jangan Mudik, Kapolres Solok Kota : Demi Kita Bersama

BERTUAHPOS.COM, SOLOK KOTA – Usaha mengantisipasi penyebaran Virus covid- 19 atau virus Corona terus dilakukan Polres Solok Kota. Selain melakukan edukasi masyarakat tentang bahaya dan…

Rabu, 08 April 2020 10:07

Sya’ban, Bulan yang “Terlupakan”

ISLAMPEDIA

Rabu, 08 April 2020 07:34

YLKI Kritik Pemerintah Soal Mudik yang Simpang Siur

NASIONAL

Rabu, 08 April 2020 07:03

Lockdown Turunkan Getaran Kerak Bumi

TEKNOLOGI