Biaya Pendidikan Selangit, Warga Miskin pun Gigit Jari

Kamis, 12 Juni 2014 12:34

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Tingginya angkanya pertumbuhan penduduk ikut mendorong tingkat kebutuhan pendidikan. Alhasil, menjamurlah sekolah-sekolah swasta termasuk sekolah yang berbasis keagamaan. Namun, tidak semua sekolah dapat dimasuki khususnya bagi warga miskin yang harus gigit jari. Maklum biaya pendidikan yang disodorkan selangit.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Abdul Jamal, M Pd yang ditemui BertuahPos.com diruang kerjanya, tidak menapik adanya biaya pendidikan yang tinggi di sekolah swasta termasuk yang berbasis islam. “Kita menilai ya kalau swasta jelas mahal karena mesti membiayai infrastruktur, bangunan dan guru yang dibayar sendiri,” ujarnya kepada bertuahpos.com.

Namun menurut Jamal kategori mahal tersebut juga bergantung pada pelayanan dan sistem pembelajaran yang dianut sekolah. “Sekolah swasta juga ada tingkatan mahalnya, tergantung dengan pembelajaran yang diberikan kepada murid, kalau dia ngasih AC terus siang dikasih makan, dan guru yang berkualitas tentu mahal. Tergantung penilaian masyarakat,” sebutnya.

Terkait pembiayaan yang mahal tersebut, dirinya mengakui Dinas Pendidikan tidak bisa lantas mengintervensi. “Terkait biaya yang mahal pemerintah tidak bisa pula mengintervensi. Kita sadari juga mahalnya biaya operasional tadi. Kalau dipikir-pikir tidak akan untung. Belum bayar listrik, gedung, gaji guru, serta seluruh pembiayaan di sana jadi kita hanya bisa menghimbau,” sebutnya.

Baca: Catatan Sejarah 26 Desember: Gempa dan Tsunami Aceh

Meski demikian, lanjut Abdul Jamar, pemerintah selalu menghimbau pihak penggelola sekolah swasta termasuk berbasis Islam untuk memperbanyak pengadaan subsidi silang. “Maksudnya lembaga pendidikan swasta mesti turut serta memberikan peluang bagi anak yang kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas,” sebutnya.

Ia mencontohkan dari biaya yang masuk setidaknya sekolah bisa memberikan sekian persen sebagai subsidi untuk anak yang kurang mampu bisa bersekolah ditempat itu. “Kita mengharapkan adanya subsidi silang, sehingga anak-anak yang kategori miskin bisa juga mendapatkan pendidikan yang berkualitas sama seperti anak-anak mampu lainnya,” tutupnya.

Dampak mahalnya biaya pendidikan tersebut, membuat orang tua calon siswa disekolah favorit maupun swasta mengurungkan niatnya tersebut. Seperti yang dituturkan oleh Darmawan (37) warga Delima yang hendak menyekolahkan anaknya di Bintang Cendikia. Namun, setelah mengetahui biaya yang harus dikeluarkan dirinya membatalkan hal tersebut.

“Ya saya ingin kemarin itu menyekolahkan anak saya disana, namun setelah melihat biaya ya saya urungkan niat itu,” ujarnya, Rabu (11/6/2014).

“Ya karena tanggungan juga banyak, dan setelah dipikir-pikir ya lebih baik nantinya akan dimasukkan di sekolah negeri saja,” pungkasnya.

Hal senada juga dikatakan Bu Yum warga Panam. Menurutnya, karena biaya pendidikan selangit sekolah untuk anaknya pun dipilih sesuai kemampuan. “Kemarin mau masukkan ke As Shofa, namun karena uangnya ga cukup, yang sudahlah, tidak jadi (ikbal/riki)