Konversi Hagia Sophia Dalam  Pusaran Pertarungan Geopolitik Dunia

Minggu, 26 Juli 2020 16:31
Konversi Hagia Sophia Dalam  Pusaran Pertarungan Geopolitik Dunia

Oleh: Sofyan Siroj
Ketua QR Foundation – Pekanbaru Riau.

Pada 24 Juli 2020, Shalat Jumat pertama dilaksanakan di Hagia Sophia, gedung berusia 1.500 tahun yang semula adalah katedral dengan sambutan “Allahu Akbar”.

Advertisement

Oleh masyarakat di dalam dan di luar masjid yang mengikuti ibadah pertama dalam 86 tahun terakhir. Sekitar 1.000 orang dizinkan untuk masuk ke Hagia Sophia melalui pemeriksaan keamanan, sementara yang lainnya melakukan salat di seputar masjid.

Pelaksanaan shalat Jumat di Masjid Hagia Sophia berlangsung dengan khidmat. Jamaah shalat tidak hanya berada di dalam bagian masjid, tetapi sampai membeludak ke area sekitar Hagia Sophia. Sehingga bagian luar Hagia Sophia tampak seperti lautan manusia.

Baca: Suhardiman Amby: RTRW Riau Tak Ada Kaitannya Dengan Asap

Surat yang Dibacakan

Imam shalat Jumat di Masjid Hagia Sophia melantunkan surat Al-Fath Ayat 1-4 pada rakaat pertama.

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Artinya:
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus. Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana

Kemudian, pada rakaat kedua, Imam masih membacakan surat Al-Fath ayat 27 sampai ayat 28. Membaca pelantunan ayat-ayat surat Al-Fath tersebut, tampaknya Otoritas Turki dan Kementerian Agama setempat, hendak mengaitkan konversi Hagia Sophia menjadi masjid dengan peristiwa penaklukkan Makkah (Fathu Makkah).

Ayat 27-28 tersebut menceritakan kabar gembira bahwa suatu saat Nabi Muhammad SAW akan menaklukkan Kota Makkah, sehingga pada akhirnya akan bisa memasuki Masjidil Haram. Berikut adalah terjemahan ayat 27 surat Al-Fath:

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ ۖ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَٰلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

Artinya:
Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.

Sementara ayat 28 surah Al-Fath:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

Artinya:
Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” 

Mengenal Hagia Sophia

Menurut ensiklopedia Britannica Hagia Sophia adalah bangunan yang dibangun di kota Konstantinopel (sekarang Istanbul, Turki) pada masa kekaisaran Justinian I, tahun 532-537. Secara umum, gedung ini merupakan struktur era Bizantin yang paling penting dalam sejarah dan merupakan monumen paling megah di dunia.

Kapan Hagia Sophia dibangun?

Mayoritas bangunan Hagia Sophia yang masih bertahan saat ini dirampungkan pada abad ke-6 (terutama tahun 532-537), selama tahta Kaisar Bizantine Justinian I. Awalnya, di lokasi tersebut terdapat gereja bernama Megale Ekklesia, yang dibangun oleh Kaisar Constantine I pada tahun 325, namun, porak poranda akibat kerusuhan tahun 404. Bangunan tersebut dibangun kembali, dan sekali dihancurkan pada tahun 532, sebelum Kaisar Justinian memerintahkan pembangunan gedung yang bertahan saat ini.

Sejak jaman Justinian, mozaik ditambahkan selama era Bizantin, sementara modifikasi bangunan dilakukan di periode Bizantin dan Ottoman. Fitur-fitur penting dalam tradisi arsitektur islam didirikan selama kepemilikan Ottoman atas bangunan tersebut.

Kenapa Dinamai Hagia Sophia?

Hagia Sophia bukanlah satu-satunya nama yang pernah disematkan ke bangunan ini. Saat ini, ia dikenal dengan berbagai nama panggilan. Dalam budaya Turki ia dipanggil Ayasofya, Sancta Sophia (Latin), dan Holy Wisdom atau Divine Wisdom (Inggris, sesuai terjemahan dari bahasa Yunani).

Nama Hagia Sophia belum muncul sampai sekitar tahun 430. Bangunan Kristen pertama yang menempati lokasi tersebut menggunakan nama yang berbeda, yaitu Megale Ekklesia, atau ‘Gereja Agung’.

Agama Mana yang Pernah Beribadah di Hagia Sophia?

Gedung yang awalnya didirikan di lokasi Hagia Sophia merupakan katedral Kristen, yang pembangunannya diperintahkan oleh Kaisar Roma Kristen pertama, yaitu Constantine I. Sebelum itu, lokasi ini merupakan sebuah tempat pemujaan kaum pagan.

Hagia Sophia mengalami konversi relijius berikutnya ketika Konstantinopel ditaklukkan oleh Sultan Ottoman Mehmed II pada tahun 1453, ketika gedung ini diubah menjadi masjid. Hal ini bertahan selama berabad-abad, hingga disekulerkan pada tahun 1934 oleh presiden pertama Republik Turki, Mustafa Kemal Atatürk. Olehnya, gedung ini dikonversi menjadi museum satu tahun kemudian, yang masih menjadi keputusan kontroversial hingga kini.

Pada 10 Juli 2020, Mahkamah Agung Turki memutuskan perubahan Hagia Sophia menjadi museum adalah tidak sah. Gedung ini lantas ditetapkan kembali penggunaannya sebagai masjid.

Kenapa Hagia Sophia Penting?

Hagia Sophia adalah satu bagian dari Warisan Dunia UNESCO di Istanbul. Selama satu milenium setelah pembangunannya, Hagia Sophia merupakan katedral terbesar di dunia Kristen. Ia menjadi pusat kehidupan religius, politik, dan seni selama masa Bizantin dan mewariskan banyak pandangan mengenai era tersebut.

Tempat ini juga merupakan situs ziarah Muslim ternama setelah penaklukan Konstantinopel pada tahun 1453.

Perubahan Apa yang Terjadi Selama Periode Ottoman?

Untuk mendekatkan corak Hagia Sophia ke dalam tradisi Islam, Sultan Mehmed II memerintahkan beberapa modifikasi. Di antaranya adalah sebuah minaret kayu (sudah tidak ditemukan), mihrab yang dihadapkan ke kota Mekkah, sebuah madrasah, dan sebuah kandelar raksasa. Modifikasi selanjutnya termasuk pembangunan beberapa minaret lainnya, penghapusan mozaik-mozaik Kristen, dan penambahan struktur penopang.

Pengaruh konversi Hagia Sophia Pertama, Dunia Islam.

Rencana itu tentunya mengundang ragam reaksi dunia. Umat Islam pastinya seperti yang diperkirakan (expectable) umumnya senang, bahagia dan memuji keputusan pemerintahan Erdogan itu. Sampai-sampai ada yang menyandingkan Erdogan dengan Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel.

Sebagai seorang Muslim yang punya emosi dan sentimen, termasuk emosi sejarah, tentu kita  ikut senang dan bahagia melihat Hagia Sophia kembali menjadi sebuah masjid. Apalagi jika perubahan musium ke masjid itu dikait-kaitkan dengan ikatan emosi kemenangan Al-Fatih melawan tentara Bezantium yang hebat saat itu.

Rencana konversi itu seolah menyimbolkan kemenangan Turki dan Islam saat ini dalam menaklukkan kekuatan sekularisme dunia, minimal di Turki. Bahwa dengan menjadinya Hagia Sophia sebagai masjid seolah Islam berjaya mengalahkan kekuatan sekularisme. Dan secara tidak langsung menegaskan bahwa pemimpin sebenarnya dunia Islam saat sekarang ini adalah Turki. Walaupun tidak semua Negara mayoritas Islam mengakuinya.

Kedua, Geopolitik Regional dan Internasional.

Kebijakan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang berani mengembalikan fungsi Hagia Sophia dari museum menjadi masjid menyiratkan pesan sendiri bagi dunia Internasional, meskipun ditentang dunia barat. Di bawah Erdogan, Turki ingin diakui sebagai negara berdaulat dan sekaligus pemimpin kawasan.

Upaya ini sebagai pendekatan baru Erdogan dalam geopolitik. Strategi ini diperlukan mengingat sudah hampir 10 tahun terakhir, Erdogan memimpin Turki terlibat konflik dalam berbagai titik seperti di Syiria Yunani, Libya dan Yaman.

Kondisi ini juga menjadi  titik balik Erdogan terjadi pascagagalnya kudeta tahun 2016. Saat itu, kudeta militer yang disponsori negara-negara anti-Arab Spring seperti Arab Saudi dan UAE makin mengokohkan posisi internal Erdogan.Itu juga membuat Erdogan lebih berani melakukan intervensi militer di kawasan, seperti Libya dan suatu saat mungkin juga Yaman, seiring dengan perkembangan luar biasa teknologi militer  Turki di bawah Pemerintahan Erdogan.

Turki saat ini dilihat sudah mampu berdiri tanpa bantuan serta menjauhkan diri dari dunia barat. Kejayaan Turki dalam ‘membersihkan’ sempadan negaranya dengan Syria dalam usaha untuk mengekang kelompok pemberontak Kurdi, yang disokong oleh Amerika Syarikat adalah petanda awal kekuatan Turki.

Bukan saja Turki berjaya menghalau membinasakan pemberontak Kurdi, Turki juga berjaya menyekat pengaruh Amerika Serikat yang menyokong pemberontak Kurdi serta menghalang campurtangan Amerika Serikat dalam skala yang lebih besar dalam konflik di Syria.

Terbaru, krisis di Libya adalah pertanda jelas kekuatan Turki menunjukkan kuantnya kekuatan kemiliteran Turki di kawasan.  Dukungan  politik dan militer Turki kepada pemerintahan sah GNA Libya adalah bukti kehandalan  Turki dalam menonjolkan diri sebagai kuasa baru dunia saat ini.

Dalam ‘Hujatan Kritik’

Khalifah Haftar yang mendapat dukungan  kekuatan besar  besar dunia seperti Perancis, Rusia, UAE, Mesir, Amerika Serikat dan beberapa Negara Arab dari segi kemiliteran dan keuangan, terlihat tidak  mampu menandingi sokongan yang diberikan Turki.

Malah negara–negara kuasa besar tersebut hanya mampu mengkritik tindakan Turki membantu pemeritahan sah  GNA Libya kerena tidak mampu berhadapan  langsung dengan kekuatan Turki. Saat ini, Turki sudah mampu menyaingi dan berdiri sama tinggi dengan kekuatan-kekuatan besar dunia. Dan dalam waktu yang tidak lama lagi akan menjadi salah satu adikuasa dunia yang baru.

Simboliknya pembebasan Aya Sofia dari sebuah  museum kembali menjadi masjid adalah ‘signal’ awal Turki kepada dunia barat. Ia adalah petunjuk jelas bahwa Turki tidak lagi takut kepada dunia barat dan ancamannya kerena Edrogan tahu risiko yang bakal dihadapinya jika menjadikan Aya Sofia sebagai masjid. Bahkan dengan lantang menyatakan ini adalah fondasi awal untuk membebaskan masjid Al Aqsha dari penjajahan dan pendudukan Israel yang mendapatkan sokongan dan dukungan kekuatan adi kuasa dunia saat sekarang ini.

Ketiga, Kepentingan Domestik Turki. 

Salah satu artikel dari intelektual Turki yang bertajuk “Dynasty or Collapse? Erdogan’s Choice and What Comes Next for Turkey?”, menyatakan: “Recep Tayyip Erdogan, presiden kontroversial Turki, terus berlanjut. Berasal dari awal yang sederhana, mantan walikota Istanbul bangkit untuk menonjol dalam politik Turki.

Pada tahun 2002, Partai AKP (Adalet ve Kalkinma Partisi/partai Keadilan dan Pembangunan) yang baru dibentuk Erdogan mencetak kemenangan pemilihan yang memukau dan memperoleh mayoritas kursi di parlemen”.

Tulisan tersebut selanjutnya menyatakan, bahwa salah satu proyek Erdogan ialah mengamandemen konstitusi Turki. Hal tersebut terealisasikan pasca pemilu Turki 2018 lalu. Konstitusi baru tersebut diterima melalui referendum dan memberikan kewenangan berkekuatan turbo kepada presiden. Peran parlemen kurang signifikan, presiden berwenang campur tangan dalam sistem hukum, dan perdana menteri dihapuskan.

Perubahan sistem parlementer ke sistem presidensial eksekutif berdasarkan amandemen konstitusi tersebut menjadikan Erdogan sebagai presiden pertama dibawah payung konstitusi baru. Selain itu, hal demikian juga menandakan bahwa Turki telah memasuki era rezim satu orang. Implikasi lainnya ialah Erdogan dimungkinkan bisa mencalonkan diri kembali sebagai presiden hingga 2029.

Erdogan dan Hagia Sophia

Banyak yang beranggapan alih fungsi Hagia Sophia tak lepas dari motif pemilu yang akan diselenggarakan pada 2023 mendatang. Ditambah lagi, partai AKP mengalami kemerosotan pemilih. Selain itu, kondisi ekonomi Turki juga berada di ujung tanduk. Sehingga, isu Hagia Sophia dianggap paling cocok untuk mendulang suara ataupun sebagai pelarian dari masalah-masalah krusial yang terjadi saat ini, termasuk masalah pandemi. Kekalahan partai AKP dalam pilkada 2019 menjadi alarm bagi Erdogan.

Lebih-lebih, kekalahan tersebut terjadi di wilayah basis AKP, seperti Istanbul dan Ankara. Menurut pengamat politik Turki, Ali Bekir, Erdogan dan AKP kini sangat butuh langkah-langkah populis agar tidak menelan pil pahit seperti yang terjadi pada pilkada 2019 yang lalu (Harian Kompas, 14/7/2020).

Perubahan status Hagia Sophia menjadi masjid bisa dijadian  sebagai senjata ampuh untuk mempertahankan atau mendulang konstituen. Sudah jamak diketahui, mayoritas penduduk Turki merupakan penganut agama Islam yang masih lekat ingatan sejarahnya dengan kejayaan Turki di masa Kesultanan ottoman.

Salam Total Leadership !

Berita Terkini

Senin, 23 November 2020 16:05

Riau Perkirakan Produksi Padi Capai 269 Ribu Ton

#pangan #ketahananpangan #padi #beras

Senin, 23 November 2020 15:35

Keponakan Kim Jong-Un Ditangkap CIA?

#korut #kimjongun #cia

Senin, 23 November 2020 15:08

Sekolah Didorong Bentuk Satgas Covid-19

#covid #corona #sekolah