Hamka, Napak Tilas Kehidupan Jurnalis Hingga Jadi Sastrawan yang Mufassir

Minggu, 06 September 2020 06:37
Hamka, Napak Tilas Kehidupan Jurnalis Hingga Jadi Sastrawan yang Mufassir

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Awal tahun 1936, Malik alias Abdul Malik Karim Amrullah yang dikenal dengan nama Hamka, ke Medan, merintis tradisi jurnalistiknya. Setelah dia menulis roman berbahasa lokal pertamanya, Si Sabariah. Ditambah kisah Laila Majnun yang dicetak Balai Pustaka (1932), hingga best seller (tiga kali cetak ulang).

Merasa passion-nya sebagai penulis lebih tajam daripada guru, di kota ini ia kembali membesarkan majalah Pedoman Masyarakat di bawah binaan Yayasan Al-Busyra. Malik pun menjadi Pemred hingga Pedoman Mayarakat punya 4.000 eksemplar, dengan nama pena Hamka

Advertisement

Sebagai pemimpin redaksi, Hamka yang berasal dari Sungai Batang Agam Sumbar ini menulis cerita bersambung mengenai situasi sosial khususnya masyarakat Minangkabau kala ini, maka lahirlah sebuah karya maestro Di Bawah Lindungan Ka’bah. Kisah kasih Zainab dan Hamid yang kandas karena adat kala itu. Hingga Balai Pustaka kembali tertarik menerbitkannya tahun 1938. 

Semangat menulisnya tak pernah kendor saat menulis Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Kisah kasih Zainuddin dan Hayati yang juga kandas karena sentiment kedaerahan. Idenya dia dapat saat lawatannya ke Makasar tahun 1930-an waktu berkecimpung dalam pergerakan Muhammadiyah.

Baca: INSPIRASI-STORY: Ketika Asap Merenggut Kumis Kesayangannya

Habis Gelap Terbitlah Terang

Hamka kembali ke Bukittinggi membesarkan Muhammadiyah sembari tetap menulis. Melawan masa suram dalam hidupnya di akhir tahun 1945. 

Tiga tahun berikutnya ia mengungsikan keluarganya ke Sungai Batang Agam. Baru tahun 1949 dia kembali mengirim keluarganya ke Jakarta. Dia pun kembali menulis di surat kabar Merdeka, majalah Mimbar dan majalah Hikmah

Ceramah tertulisnya pun rutin tertuang dalam Gema Islam hingga tahun 1964. Ujian tersuram ketika Hamka dituduh plagiat karya sastra Perancis oleh Lekra, sayap binaan PKI tahun 1962. Terlebih kedekatan Hamka dengan tokoh Masjumi. 

Puncaknya pada Ramadhan 1383, bertepatan 27 Januari 1964 dia dijebloskan ke penjara, karena dianggap melawan Soekarno. Gelap dan dinginnya lantai penjara (2 tahun) dan tahanan rumah/tahan kota (4 bulan) dia habiskan menulis tafsir Al Azhar. ”Terima kasih,” kata Buya Hamka pada rezim yang membuatnya berkarya di penjara waktu itu. (bpc5)