Catatan (yang Terlewat) Bagus Wasito: Pasien Positif COVID-19 di Madinah

Kamis, 30 Juli 2020 15:41
Catatan (yang Terlewat) Bagus Wasito: Pasien Positif COVID-19 di Madinah
Bagus Wasito bersama keluarganya di Madinah – Foto: Istimewa

Tulisan ini merupakan bagian lain dari tulisan Bagus Wasito soal kisah dirinya dan keluarga yang terjangkit COVID-19. Pada bagian ini menceritakan tentang makna-makna serta pelajaran dari kejadian itu.

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebuah Catatan yang Terlewat: Hal-hal yang kurasakan paling bermanfaat saat COVID-19 menginap di rumah kami.

Advertisement

Catatan 1: Pengajian adalah perkara yang biasa kita letakkan sebagai kegiatan sampingan dalam hidup kita (bhs Jawa:sak-sempate-/ya kalau sempat saja) tetapi ia bukan lagi jadi sampingan tatkala kondisi genting menghinggapi kita.

Masalah COVID-19 ini bukan hanya mengenai diriku saja, namun masalahnya ia juga tentu menulari istri dan anak-anakku. Apalagi ada di antara mereka yang memiliki sakit bawaan asma, maka ke manakah aku mesti mencari jalan keluar saat itu?

Baca: Travel Gelap Seludupkan Penumpang Mudik, Apa Tindakan Provinsi Riau?

Jalan keluar yang kurasakan paling bermanfaat saat itu ada dua, yaitu Iman kepada Takdir dan Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah Yang Sempurna.

Iman kepada takdir mengubah suasana hati yang cemas, tidak pasti, penuh tanda tanya, pikiran-pikiran negatif dan buruk, menjadi hati yang bersandar, pasrah menyerahkan sepenuhnyaurusan kepadaNya, lalu hati pun menjadi tenang, walhamdulillaah.

Iman kepada Nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifatya yang sempurna, menumbuhkan rasa pengharapan yang besar akan kebaikan, ampunan dan rasa optimis. Sehingga mendorong untuk lebih banyak berdoa dan berdoa, dan yang sangat penting adalah menjadikanku senantiasa berprasangka baik kepada-Nya.

Ar-Rahman, Ar-Rahim

Dan di antara nama-nama-Nya yang selalu terngiang-ngiang bagiku saat itu adalah: Ar-rahmaan dan Ar-rahiim, yang tiada lain karena pengaruh kebiasaan di dalam shalat kita selalu membaca surat Al Fatihah.

Nama-nama dan sifat-sifat-Nya sungguh amatlah banyak, namun Allah telah memilih 2 nama tersebut untuk surat Al Fatihah (yang disebut dalam satu ayat secara menyendiri — secara bersamaan sekaligus, sedangkan Al Fatihah adalah induk dan intisari dari Al Quran, dan di sisi lain akan terus menerus berkali-kali dibaca hamba-hambaNya dalam shalat).

Dari nama tersebut kita bisa mengetahui bahwa Allah memiliki sifat kasih sayang yang sempurna, bahkan lebih Agung daripada kasih sayang ibu kandung kita kepada kita sendiri!.

Pengaruh nama-nama ini benar-benar luar biasa karena akan menumbuhkan rasa optimis, pengharapan yang besar di saat kita sedang down atau tertimpa musibah, termasuk saat mendengar nama COVID-19 yang sudah terlanjur menggelegar ditakuti di mana-mana.

Ini baru 2 nama dan sifat saja, maka bagaimana lagi kalau kita faqih/paham dan mengilmui banyak dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya?

Surat Al Fatihah ini memang luar biasa, selain ayat ‘Ar-Rahmaanir-Rahiim‘ yang sangat berpengaruh, ada lagi satu ayat yang sangat berpengaruh di saat-saat itu, yaitu; Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in, yang benar-benar banyak mendorong untuk terus optimis berdoa memohon pertolongan kepada Allah dan yakin akan pertolongan-Nya. Bahkan inilah saatnya aku menepati janjiku, bahwa aku benar-benar akan memohon pertolongan hanya kepada-Nya.

Doa yang Paling Berkesan

Adapun di antara doa-doa yang kurasakan paling berkesan saat itu adalah doa qunut witir, rasanya pas banget dengan keadaan ketika itu.

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ. وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ. وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ. وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ

وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ. إِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ. وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ. وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

Alloohummah dinii fiiman hadait. Wa ‘aafinii fiiman ‘aafait. Wa tawallanii fiiman tawallait. Wa baariklii fiimaa a’thoit. Wa qinii syarro maa qodloit. Innaka taqdli wa laa yuqdlo ‘alaik. Wa innahu laa yadzillu maw waalait. Wa laa ya’izzu man ‘aadait. Tabaarokta wa ta’aalait.

Artinya:

Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah aku kesejahteraan sebagaimana orang yang Engkau beri sejahtera.
Sayangilah aku sebagaimana orang yang telah Engkau sayangi. Berikanlah berkah terhadap apa-apa yang telah Engkau berikan kepadaku. Lindungilah aku dari keburukan apa-apa yang Engkau telah takdirkan. Sesungguhnya Engkau yang menentukan takdir dan tidak ada orang yang menentukan takdir kepada-Mu. Sesungguhnya orang yang Engkau bela tidak akan terhina. Dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Agung Engkau, wahai Rabb kami Yang Mahatinggi.

Sungguh, rasanya sayang sekali kalau sampai ketinggalan hari-hari tanpa doa ini, padahal di dalamnya tercakup seluruh kebutuhan yag dibutuhkan seorang hamba dalam keadaan apa pun apalagi di saat susah.

Pertanyaannya Di manakah kita dapatkan dan belajar tentang?

Jawabnya adalah, di Pengajian-pengajian yang selama ini kita ikuti, baik itu yang offline  maupun online. Adapun waktuku yang lain yang telah kuhabiskan di medsos dan internet mengikuti kabar-kabar dll di saat itu sama sekali tidak bermanfaat.

Mungkin dalam keadaan normal dan sehat seperti ini kau tak dapat merasakan, tapi bagiku yang saat itu sedang berhadapan langsung dengan COVID-19 terasa sekali, mana yang bermanfaat dan mana yang justru merugikan atau setidaknya hanyalah sia-sia buang-buang waktu, tenaga dan, kuota.

Karena itu kita sangat berterimakasih kepada para asatidz dan masyayikh atas segala jerih payah mereka tak letih-letihnya meluangkan waktu tenaga dan pikiran yang sangat banyak untuk mengajarkan kebaikan kepada kita, jazaahumullaahu khaira.

Dan aku nasehatkan kepada para pembaca untuk terus dan jangan lemah untuk selalu rutin “pengajian” baik secara online, offline maupun membaca buku-buku, kitab yang bermanfaat, dan mengajak keluarga untuk turut serta sesuai kemampuan dan waktu yang dimiliki, bahkan pengajian 5 menit itu bisa jadi manfaatnya sangat besar dunia dan akhirat yang kau tidak tahu, maka bagaimana lagi yang setengah jam lalu 1 jam?

Dan dari pengalaman kondisi kami kemarin, kurasakan manfaat pengajian khususnya materi-materi yang berhubungan dengan Aqidah, sungguh manfaatnya amat besar, pdahal ini masih di dunia!

Karena itu aku menyangka wallahu a’lam di saat menghadapi kematian dan sesudah kematian pun, “Pengajian” akan menjadi sesuatu yang sangat-sangat berharga, setelah sebelumnya ia akan berperan dalam memperbaiki iman dan membaguskan amal shalih kita sehari-hari di dunia.

Saling Menasehati

Catatan-2: Pentingnya saling memberi nasehat. Di antara keajaiban Syariat-Nya adalah perintah untuk saling nasehat-menasehati bahkan di antara kunci keberhasilan hidup ini adalah saling menasehati (sebagaimana terdapat dalam surat Al Ashr), yang perkara ini tidak diketahui oleh para pencari/motivator kesuksesan hidup dunia.

Berharganya sebuah nasehat aku rasakan dan syukuri setelah segalanya berakhir dengan kesembuhan dan kebaikan-kebaikan lain yang banyak.

Kisahnya: di saat aku merasakan gejala demam ringan (dan aku belum menyadari sakit) ada seorang kawan kerja, keturunab arab yang umurnya sekitar 7-10 tahun di bawahku (orang Arab punya rasa percaya diri yang besar meski ia jauh lebih muda, tapi tidak menghalanginya untuk memberi nasehat kepadaku.

Karena memang sebenarnya bukan aib seorang yg lebih muda memberi nasehat kepada yg lebih tua) mengajakku ngobrol lalu dia memberi nasehat kepadaku akan dua hal, yakni untuk bersedekah dan berdoa.

Dia bercerita perihal kisah-kisah keadaan ayahnya yang suka bersedekah, bahkan ia tegaskan di akhir nasehatnya.

“Wahai Bagus, usahakan dlm hidupmu jangan lupa ya untuk bersedekah. Karena dengannya akan banyak mendatangkan kebaikan dan berkah dalan hidupmu, dan doa. Jangan lupa, itu sangat penting karena dengan keduanya banyak hal hidup orang bisa berubah.”

Nasehat itu benar-benar mengena di hatiku saat itu padahal ia bukanlah seorang ustadz atau pendakwah, hanyalah seorang pemuda arab yang sepintas biasa-biasa saja.

Karena merasa tersentuh, maka di dalam hatiku saat itu pun berkata, “Demi Allah, aku akan melaksanakan nasehat ini!”

Bekal Saat Menghadapi COVID-19

Dan ketika itu aku sama sekali tidak pernah menyangka bahwa COVID-19 akan datang kepada kami. Dan aku pun tidak pernah menyangka bahwa ternyata nasehat ini akan menjadi bekal yang sangat berharga kelak, tatkala menghadapi COVID-19.

Aku menyangka bahwa nasehat itu termasuk perkara yang bisa jadi meringankan keadaan kami sekeluarga tatkala COVID-19 datang.  Wallaahu a’lam. Taufiq dan kebaikan semua atas kehendak dan pertolongan Allah.

Demikian kawanku sedikit catatan yg aku ingin berbagi kepadamu karena rasa cintaku kepadamu, semoga tulisanku ini tidak membosankanmu dan semoga Allah karuniakan selalu kebaikan dan petunjuk jalan yang lurus kepadamu.

Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad dan keluarga beliau, istri-istri beliau dan seluruh sahabat-sahabat beliau, juga kepada para pengikut setianya hingga akhir zaman, aamin.***

Selesai.

Tulisan ini ditulis langsung oleh Bagus Wasito, Warga Kadipaten, Jogya, yang kini tinggal bersama keluarganya di Madinah. Tulisan ini berdasarkan pengalamannya yang terpapar virus corona dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

(bpc2)