Sekolah Camat di Mata Seorang Birokrat

Minggu, 13 September 2020 10:05
Sekolah Camat di Mata Seorang Birokrat

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Sekolah kedinasan STPDN yang kini bernama IPDN punya sejarah panjang. “Bermethamorphosis sejak 1948 (Sekolah Menengah Tinggi Pangreh Praja),” ujar Syamsuir, mantan Camat Tampan, saat berbincang ringan dengan Bertuahpos.com, belum lama ini, di kediamannya.

Tahun 1952 hingga 1954, kementrian dalam negri menyelenggarakan kursus dinas C (KDC) di Malang, Aceh, Bukittinggi, Pontianak, Makassar, Palangkaraya dan Mataram. Kemudian menjadi Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) 17 Maret 1956 di Malang Jatim sesuai SK Mendagri No Pend a/20/565 oleh Soekarno.

Advertisement

Berdasar keputusan bersama Mendagri dan Mendikbud No. 8 tahun 1967, menjadi IIP di Malang Jatim. Tahun 1972 IIP pindah ke Jakarta, diresmikan Soeharto, tahun 1989.

APDN terintegrasi di wilayah Jatinangor Jawa Barat dengan Kepres No.42 tahun 1992 dan berubah menjadi STPDN yang diresmikan Soeherto. Pasca kasus pemukulan praja  Wahyu Hidayat (2003),  pemerintah melebur STPDN dan IIP menjadi IPDN, Institut Pemerintahan Dalam Negeri,  Kepres No.87 2004.

Baca: Catatan Sejarah 26 September: Kecelakaan Pesawat Terburuk di Indonesia, Garuda 152

Asal Mula Jarlatsu

Dengan keluarnya UU tahun 1974 tentang pemerintah daerah, camat sebagai kepala wilayah jadi penguasa tunggal, koordinator di bidang pemerintahan. “Jadi begini, waktu berjalan ada kecendrungan sipil agak minder dengan ABRI,” kata Syamsuir.

“Untuk meningkatkan wawasan nasional, Pak Rudini menciptakan APDN nasional. Agar lebih terintegrasi, pendidikan dibantu ABRI. Itulah yang dikenal dengan istilah Jarlatsu. Pengajaran, pelatihan dan pengasuhan. Tri tunggal, tiga pola yang satu tujuan,” katanya.

Jarlatsu inilah jadi modal seorang pamong, harus menguasai semua lini. Diceritakannya, pelajaran yang diberikan layaknya mahasiswa, disusul pelatihan. Semuanya diajarkan namun tidak begitu dalam.

“Tapi kulit-kulitnya dia tahu. Bagaimana menjadi petani yang baik, peternak yang sukses, montir, segala macam dipelajari secara generalis. Termasuk berinteraksi di tengah masyarakat,” ungkap lelaki penyuka olahraga jogging ini.

Pelatihan dan pengajaran ini sekali 6 bulan turun ke lapangan (PKL). Dalam rangka pembentuhan mahasiswa. Pas tamat siap menjadi kader.

“Yang paling penting itu pengasuhan. Inilah pembinaan sikap mental. Mulai cara berbicara, bersikap, bahkan cara makan dan tidur pun diajarkan. Beradab dan beretika,” ungkapnya.

“Termasuklah, bagaimana menghormati yang lebih tua Dalam agama islam dikenal  ahlakul karimah. Tak salah jebolan STPDN bisa berkiprah di organisasi-organisasi perangkat daerah. Jadi Kadis PU, Kadis Kesehatan, itu sudah bonus. Karena ini kan sekolah camat,” kata birokrat alumni STPDN 1993 ini. (bpc5)