Dalang G30S, Perebutan Pengaruh Kekuasaan Liberal (AS) dan Komunis (Rusia) di Indonesia

Senin, 28 September 2020 09:38
Dalang G30S, Perebutan Pengaruh Kekuasaan Liberal (AS) dan Komunis (Rusia) di Indonesia
Ilustrasi.

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Siapa aktor intelektual atau dalang di balik peristiwa G30S? Ada yang mengatakan Soekarno, beralasan beliau berada di Halim Perdanakusuma, sepanjang siang hari 1 Oktober 1965. 

Ditambah sikap dan pernyataan Soekarno sendiri bertentangan dengan pendapat umun yang menuding PKI pelaku utama G30S. ini diuraikan dalam buku Gerakan 30 September; antara Fakta dan Rekayasa, berdasarkan kesaksian para pelaku sejarah (1999). 

Advertisement

Kemudian, yang mengatakan PKI aktornya, dalam buku yang sama disebutkan PKI memperalat unsur ABRI ketika itu, tokoh-tokoh PKI merencanakan gerakan sejak lama. 

Tujuannya merebut kekuasaan dan menciptakan masyarakat komunis di Indonesia. Sejarawan Nugroho Notosusanto yang pernah menjabat Mendiknas era Orde Baru dan Ismael Saleh juga menuangkannya dalam buku Percobaan Kup Gerakan 30 September di Indonesia (1968).  

Baca: Sahabat Sandiaga Uno Ajak Teman Ahok Bergabung Pilih Pemimpin Berintegritas

Dalam buku Kontroversi Sejarah Indonesia (2001), Syamdani sebagai editor menulis justru ada konflik iternal antara Soeharto dan Angkatan Darat. 

Soeharto menganggap Achmad Yani adalah orang mengganjal karirnya. Kemudian skenario keempat CIA adalah aktor intelektual semua ini. Titik beratnya pada  pola perekrutan CIA. 

Boleh jadi orang yang direkrut (Soeharto, Supardjo, Untung, dan Latief pernah dilatih CIA), tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanfaatkan untuk tujuan dan kepentingan tertentu

“Masalah itu, terlalu sensitif, dan politis. Saya tak mau terjebak dalam suasana emosional itu. Apalagi Soekarno maupun Soeharto masih punya pendukung fanatik di Indonesia. Kecuali Aidit, yang kebetulan kurang  menarik kalau dikatakan dia yang bertanggungjawab. Sebagai, bahan analisa ada pendapat bahwa; sejarah adalah produk si pemenang,” kata Idjang Tjarsono, mantan dosen filsafat Fisip Universitas Riau.

Perlu diingat, kata Idjang lagi, G30 S/PKI, terjadi bukan dalam ruang hampa, tapi dalam suasana perang dingin. Antara dua kekuatan besar (AS dan Uni Soviet/Rusia), dan Bung Karno saat itu termasuk figur berpengaruh sebagai kekuatan alternatif di antara kekuatan besar itu. 

Kesimpulannya, jika ada satu pertanyaan dan jawabannya lebih dari satu, maka kemungkinannya: pertama, semua jawaban salah. Kedua, tidak mungkin semuanya benar, dan Ketiga, salah satu ada yg benar”, tutup dosen yang kini menetap di kaki Gunung Slamet itu. (bpc5)

Berita Terkini

Rabu, 28 Oktober 2020 18:10

STISIP Persada Bunda Jalani Asesmen Lapangan oleh BAN PT Secara Daring

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) melakukan asesmen lapangan (AL) secara daring terhadap Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Stisip)…

Rabu, 28 Oktober 2020 14:46

Menghentikan Ancaman Hidrometeorologi, Cabut Izin Korporasi Perusak Hutan

#hutan #Hidrometeorologi

Rabu, 28 Oktober 2020 14:22

UMP Riau Sudah Ditetapkan

#ump #upah

Rabu, 28 Oktober 2020 14:13

Sri Mulyani: Pemda Akan Disuntik Insentif

#srimulyani #keuangan

Rabu, 28 Oktober 2020 14:01

Hati-hati Munafik Beribadah Kepada Allah

ISLAMPEDIA