Indonesia Rentan Ikut ‘Jejak’ Korsel dan Australia yang Kini Masuk Resesi Ekonomi

Senin, 27 Juli 2020 11:53
Indonesia Rentan Ikut ‘Jejak’ Korsel dan Australia yang Kini Masuk Resesi Ekonomi
Ilustrasi

BERTUAHPOS.COM — Kondisi ekonomi Indonesia sangat rentan mengikuti ‘jejak’ Korea Selatan (Korsel) dan Australia, yang kini sudah masuk dalam resesi ekonomi. Kondisi itu akan terjadi jika memang pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III mengalami penyusutan.

Soal penyusutan pertumbuhan ekonomi nasional ini dijelaskan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Nathan Kacaribu. Pada kuartal ke II pertumbuhan ekonomi diperkirakan minus 4,3%. Ini angka yang besar.

Advertisement

Kondisi ini sebelumnya sudah diwanti-wanti oleh Presiden Joko Widodo saat dia mengumpulkan seluruh Gubernurnya dalam sebuah pertemuan di Istana Negara. Jokowi meminta kepada daerah agar secepat mungkin melakukan realisasi APBD pada kuarta II, dengan harapan bisa menekan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional.

BBC News Indonesia melaporkan, para pakar ekonomi meyakini masuknya Korea Selatan dan Singapura dalam resesi menjadi indikator bahwa Indonesia juga akan mengalami nasib yang sama. Mengingat kedua negara tersebut merupakan mitra-mitra perdagangan yang cukup besar.

Baca: Plt Gubri Pantau Kondisi Pasar Cik Puan

Perkuat Ekonomi Domestik

Solusinya untuk sementara ini, menurut pakar ekonomi, bagaimana perekonomian domestik bisa didorong sebaik mungkin. Jika langkah ini bisa dilakukan dengan maksimal, kemungkinan dampak yang dialami Indonesia tidak seburuk kedua negara itu.

Menurut peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara, Korsel dan Australia merupakan mitra dagang yang penting begi Indonesia. Kedua negara ini berkontribusi besar dari sisi penanaman modal asing.

Menurut data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi asing untuk kuartal kedua 2020 melambat sebesar 6,9% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu.

Poin ini juga termasuk dalam hal yang diingatkan oleh Jokowi beberapa waktu lalu. “Kita tidak lagi bisa menghadapi investasi (untuk pemulihan ekonomi dalam waktu dekat). Tidak bisa mengharapkan perbankan. Satu-satunya cara realisasi benja daerah yang harus direalisasikan secepat mungkin,” kata Jokowi.

Resesi ekonomi terjadi ketika pertumbuhan ekonomi minus, atau berada di bawah 0%, selama dua kuartal berturut-turut. Kementerian Keuangan memperkirakan penurunan yang terjadi pada kuartal kedua, yaitu periode April hingga Juni, berada di minus 4,3%.

“Kemungkinan besar, Indonesia akan mengalami resesi pada kwartal ke III dengan proyeksi pertumbuhan minus 2-3%. Dengan demikian kondisi ekonomi kita sama dengan Korsel dan Australia,” kaga Bhima. (bpc2)