2020, Produksi Minyak Mentah Riau Dipangkas 460 Ribu Barel per Hari

Senin, 06 Juli 2020 10:43
2020, Produksi Minyak Mentah Riau Dipangkas 460 Ribu Barel per Hari
Pompa minyak. (Foto: Ilustrasi, Pixabay)

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Terget produksi minyak mentah di Riau tahun 2020 harus dipangkas sebesar 460 ribu barel per hari. Hal ini terlihat dalam penyusunan terget ulang dari produksi sebelumnya 735 ribu barel per hari menjadi 275 ribu barel per hari untuk tahun ini.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau Indra Agus Lukman mengatakan, langkah ini harus diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap anjloknya harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) akibat corona.

Advertisement

“Ada sejumlah faktor penyebab anjloknya ICP, utamanya terkait dengan penyebaran COVID-19 di negara produsen,” ungkapnya, Senin, 06 Juli 2020.

Faktor lain, yakni adanya travel restriction atau dibatasinya perjalanan orang-orang di seluruh negara karena mereka harus lebih banyak berdiam diri di rumah. Hal ini ternyata berimbas pada turunnya permintaan minyak global secara drastis sehingga harus disikapi secara serius agar produksi minyak mentah tidak menimbulkan kerugian besar.

Baca: Prof Almazdi Syahza: Jika TBS Rp 1.500, Ekonomi Desa Masih Menggeliat

Diketahui, penurunan ICP juga dipengaruhi oleh konflik perdagangan minyak antara negara OPEC dan non OPEC yang menyebabkan indikasi oversupply dan memicu harga minyak dunia terjun bebas di awal Maret 2020 lalu. Dan kejadian ini bersamaan dengan adanya pandemi COVID-19 yang mulai merebak sejak awal tahun 2020.

Pihaknya bersama SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di wilayah setempat telah mengantisipasi agar kegiatan hulu migas tidak terganggu. Antara lain dengan melakukan efisiensi hingga optimalisasi, lalu strategi logistik diubah dengan metode terpadu dengan tujuan cost production bisa ditekan.

“Distribusi pengangkutan sengaja diturunkan, kalau kita produksi sebesar terget sebelumnya dengan harga 38 dolar per barel, uang itu hanya habis di operasional saja. Makanya produksi harus dibatasi dan tidak melebihi target, karena kalau melebihi, ruginya akan lebih banyak,” katanya. (bpc2)