Syamsuar Sebut Isolasi Mandiri di Rumah Sulitkan Petugas untuk Kontrol Kondisi Pasien

Jumat, 28 Mei 2021 11:43
Syamsuar Sebut Isolasi Mandiri di Rumah Sulitkan Petugas untuk Kontrol Kondisi Pasien
Gubernur Riau Syamsuar. (Istimewa/Diskominfotik Riau)

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Gubernur Riau Syamsuar mengatakan metode isolasi mandiri pasien covid-19 di rumah, akan menyulitkan tenaga medis dalam mengontrol kondisi pasien.

Pemerintah daerah telah menyediakan tempat – tempat khusus untuk warga positif corona agar bisa dilakukan isolasi mandiri di situ.

Advertisement

“Mereka yang positif sebaiknya menjalani masa isolasi di tempat – tempat yang telah disediakan pemerintah, agar tenaga medis mudah melakukan kontrol,” katanya dalam arahan virtual pada Kamis, 27 Mei 2021.

Selain memastikan kondisi fisik warga yang positif covid-19, lalu memberikan obat, hal lain yang jauh lebih penting, kata Syamsuar, mengontrol pasien agar tidak keluar atau berkeliaran dengan status mereka yang masih positif.

Baca: Demo Serentak 8 Oktober: Cabut Omnibuslaw

BACA JUGA:  New Normal, Akad Nikah Hanya Boleh Dihadiri 30 Orang

Isolasi mandiri pasien covid-19 di tempat yang disediakan pemerintah, akan banyak memberikan kemudahan dalam upaya penanganan. 

Sedangkan jika mereka hanya menjalani isolasi mandiri di rumah, maka tingkat kepatuhan masih menjadi persoalan dan petugas tentu akan sulit melakukan pengawasan.

Pada 26 Mei 2021, kasus positif harian di Riau mencapai 739 kasus. Angka ini naik pada tanggal 27 Mei 2021 menjadi 800 lebih kasus positif harian.

Menurut data Satgas Penanganan Covid-19 Riau, sejauh ini ada 5.216 kasus atif corona di Riau. 4.368 pasien diisolasi mandiri, sedangkan 848 lainnya isolasi ditempat-tempat yang telah disediakan pemerintah. 

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Riau dr Indra Yovi, asas kepatuhan masyarakat dalam disiplin protokol kesehatan, sejauh ini menjadi faktor utama melonjak angka kasus positif covid-19, selain jumlah sampel swab yang diuji juga meningkat.

Ramalan – ramalan akan terjadinya penambahan kasus positif harian diklaim sudah dilakukan sebelum Ramadhan dan Idul Fitri. 

“Perkirakan itu kini terjadi setelah ada banyak yang masih tidak patuh pada protokol kesehatan,” katanya dalam sebuah konferensi pers, di Pekanbaru.

Namun, ahli epidemiologi di Riau dr Wildan Asfan Hasibuan menilai, faktor lain melonjaknya kasus positif covid-19 lantaran proses tracking dalam mendeteksi corona masih tergolong lemah.

“Dalam 1 kasus, targetnya 1 banding 15, sementara yang terealisasi hanya 1 banding 3. Berarti ada 12 orang yang tidak mampu terdeteksi setiap hari. Sementara itu positivity rate covid-19 di Riau, menurutnya, kini mencapai 32,3,” katanya.

Jika tracing hanya 1 banding 3, dengan 12 orang lainnya lepas dari pemeriksaan covid-19, maka ada kemungkinan 3 atau 4 orang positif tidak terdeteksi.

“Mereka mungkin masih berkeliaran sehingga berpotensi menjangkitkan orang lain. Ketika ada 100 orang saja yang positif covid-19, maka sampai 800 orang yang harus dideteksi,” tuturnya.

Oleh sebab itu, dia memperkirakan, kepanikan ini mungkin akan berlangsung dalam 2 minggu ke depan. (bpc2)