Aspidum Kejati Riau Minta Polsek Bukit Raya Abaikan Oknum yang Mengaku Jaksa

Jumat, 26 November 2021 19:48
Aspidum Kejati Riau Minta Polsek Bukit Raya Abaikan Oknum yang Mengaku Jaksa

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU —Asisten Tindak Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Riau, Rizal Syah Nyaman, SH MH, meminta Penyidik Polsek Tampan mengabaikan oknum yang mengaku jaksa yang mencoba mengintervensi penyidik dengan menyebut laporan dugaan penipuan dan penggelapan yang dilaporkan Hendi Susanto Lase adalah perkara perdata.

Aspidum juga mempersilahkan penyidik untuk bekerja secara profesional, jika terbukti ada unsur pidana dalam perkara tersebut tidak akan ada intervensi. Hal ini disampaikan Aspidum, Rizal Syah Nyaman, menindaklanjuti surat laporan yang disampaikan Aidil Fitsen SH Penasehat Hukum pelapor dugaan penipuan dan penggelapan.

Aidil Fitsen SH, kepada Bertuahpos.com, Jumat, 27 November 2021, mengungkapkan, sebelumnya dirinya ada menyurati Kepala Kejaksaan Tinggi Riau, melaporkan adanya beberapa oknum yang mengaku Jaksa di Kejaksaan Tinggi Riau melakukan intervensi kepada pihak Penyidik Polsek Bukit Raya, dengan mengarahkan perkara dugaan penipuan dan penggelapan yang dilaporkan korban Hendi Lase adalah termasuk ranah hukum perdata, terkait dengan masalah hutang piutang.

“Menurut kami oknum yang mengaku pegawai kejaksaan tersebut telah sangat melampaui batas kewenangannya dengan mencampur penyidikan perkara oleh penyidik Polsek Bukit Raya. Atas laporan tersebut ditindaklanjuti oleh Kepala Kejaksaan Tinggi Riau dan hasilnya langsung disampaikan Aspidum kepada kami di ruang kerjanya,” ujar Aidil.

Baca: Catatan Sejarah 25 November: Kongres Guru, dan Berdirinya PGRI (2)

Dikatakan Aidil, Aspidum memastikan orang yang mengaku Jaksa atau pegawai Kejaksaan Tinggi Riau tersebut bukan Jaksa ataupun pegawai, tetapi hanya orang kantin di Kejaksaan Tinggi Riau. “Karena itu, Pak Aspidum menyampaikan kepada kita agar penyidik Polsek Bukit Raya tidak terpengaruh dengan adanya orang yang mengaku-ngaku jaksa tersebut  dan memastikan tidak akan mengintervensi penyidik jika laporan Hendi Susanto Lase tersebut terbukti pidana. 

Sebelumnya, Hendi Susanto Lase (23), warga Pagaran Tapah, Kabupaten Rokan Hulu, mempertanyakan laporan penipuan dan penggelapan yang diduga dilakukan pasangan suami istri JSS dan E alias I di Polsek Bukitraya, Pekanbaru. Pasalnya sudah dua bulan dirinya melapor, penyidik belum menetapkan tersangka terhadap laporannya.

Hendi Susanto Lase, mengungkapkan dirinya melaporkan JSS dan E alias I pasangan suami istri pada tanggal 25 Agustus 2021 lalu. Dugaan penipuan dan penggelapan yang dilakukan pasangan suami istri tersebut bermula pada tahun 2019 lalu. sepeda motor Hendi dilisingkan oleh JSS ke Otto Finance di Jalan Arifin Ahmad, atas saran E alias I (istri JSS). 

Dari hasil lising itu diperoleh uang Rp25 juta dan harus diangsur sebesar Rp1,7 juta setiap bulan selama dua tahun. Uang Rp25 juta tersebut dipergunakan untuk membayar DP rumah di developer yang kebetulan E alias I sebagai salah satu marketing developer tersebut. 

Selama satu tahun lebih, Hendi menyerahkan uang kepada JSS dan E alias I Rp1,7 juta untuk disetorkan ke lising Otto tersebut. Namun tujuh bulan menjelang berakhirnya masa lising, ayah Hendi meninggal dunia, sehingga dirinya kesulitan membayar angsuran rumah dan motor.

Tanggal 30 Desember 2020, Hendi menerima pesan WhatsApp dari E alias I, bahwa suaminya JSS yang bekerja di Indonesian Creative School (ICS) dikejar-kejar oleh BMP, pihak ketiga Otto Finance. E alias I meminta Hendi untuk membayar angsuran satu bulan dulu Rp1,7 juta. Tanggal 2 Hendi mentransfer uang sebesar Rp1,7 juta untuk pembayaran sepeda motor.

Tanggal 3 Februari, E alias I kembali menyampaikan pesan melalui WA mengatakan suaminya akan dikeluarkan dari ICS jika pembayaran di Otto tidak diselesaikan. Hendi meminta waktu namun pihak Otto menurut E alias I tidak memberikan waktu dan meminta agar dilakukan pelunasan selama tujuh bulan dengan jumlah Rp17,5 juta.

Hendi merasa terkejut karena untuk melunasi hutang dilising tersebut harusnya Rp1,7 juta x 7 bulan, yakni Rp11,9 juta. E alias I mengatakan hal tersebut bersama dengan dendanya. Padahal menurut Hendi dirinya tidak selalu terlambat memberikan uang pembayaran kredit motor tersebut kepada JSS maupun E alias I.

Hendi kemudian mengatakan kepada E alias I bahwa dirinya tidak memiliki uang sebesar itu. Sehingga Hendi meminta agar menyerahkan sepeda motor tersebut kepada pihak lising. Namun E alias I menolak dengan mengatakan jika ditarik maka nama suaminya JSS akan jelek. Sehingga E alias E menyarankan agar motor dijual dan uangnya dibayar ke Otto untuk pelunasan.

Tanggal 7 Februari, Hendi menjual motor ke salah satu showroom dengan harga Rp20 juta dengan perjanjian BPKBnya menyusul. Tanggal 8 Februari, Hendi berangkat ke Pekanbaru dan menemui JSS mempertanyakan kapan ada waktu untuk sama-sama ke Otto Finance untuk melakukan pelunasan. Namun JSS mengaku sibuk dan meminta agar kalau ada uangnya agar diserahkan kepada JSS saja dan JSS yang pergi melakukan pelunasan. Akhirnya pukul 16.00WIB, Hendi menyerahkan uang Rp15 juta di ICS tempat JSS bekerja.

Tanggal 10 Februari 2021, Hendi pulang ke Ujung Batu, karena memperoleh kabar ibunya sakit. Ketika berada di Ujung Batu, JSS dan E alias I menelepon mengatakan biaya pelunasan Rp16 juta, yang artinya Hendi harus menambah Rp1 juta lagi. Hendi kemudian meminjam uang Rp1 juta kepada Itje, salah seorang Jaksa. Setelah dapat kemudian Hendi menyerahkan uang tersebut kepada E alias I. Namun hingga saat ini BPKB sepeda motor tersebut tak kunjung diterima oleh Hendi, sementara uang Rp16 juta yang diserahkan Hendi kepada JSS pun sudah tidak ada dan tidak dikembalikan kepada Hendi.(bpc17)

Berita Terkini

Sabtu, 27 November 2021 05:32

Menang Lawan Myanmar, Tae-Yong: Kepercayaan Diri Pemain Naik

Meski menilai masih banyak kekurangan pasca menang 4-1 melawan Myanmar pada Kamis malam, pelatih Shin Tae-yong menilai kepercayaan diri pemain timnas mulai meningkat.

Sabtu, 27 November 2021 05:00

Catatan Sejarah 27 November: Hari Lahir Abraham Samad, Ketua KPK ke-4

Selama menjabat sebagai Ketua KPK RI ke-4 2011-2015, Abraham Samad mengklaim telah memyelamatkan uang negara dengan nilai triliunan rupiah.

Jumat, 26 November 2021 20:04

Syamsuar: Jamkrida Kerjanya Jangan Monoton

BUMD dorong untuk meniingkatkan dividen

Jumat, 26 November 2021 19:18

APBD Lelet Pembangunan Seret

OPINI

Jumat, 26 November 2021 16:10

Sederet Pebisnis ‘Raksasa’ Incar Ibu Kota Negara Baru

Para pengembang menyatakan kepastian untuk melakukan investasi di Tanah Borneo.

Jumat, 26 November 2021 15:30

Erick Thohir Sebut BUMN Buka Peluang Kerjasama dengan Riau

Peluang kerjasama selalu terbuka untuk daerah.

Jumat, 26 November 2021 15:25

Temui Anggota DPR RI dan Kepala Balai Pengelola Transportasi, Wabup Meranti Minta Akses Transportasi Terkoneksi ke Provinsi

Dari 12 Kabupaten Kota di Riau, hanya Meranti yang belum selesai akses transportasi darat untuk menuju ke ibu kota Provinsi (Pekanbaru)

Jumat, 26 November 2021 15:09

Menang Besar Lawan Myanmar, Pemain Timnas Jangan Jumawa

Ketua Umum PSSI, Mochammad Iriawan atau Iwan Bule meminta pemain timnas jangan merasa puas ataupun jumawa dengan kemenangan 4-1 atas Myanmar, Kamis malam tadi.

Jumat, 26 November 2021 15:01

Ketua PAEI Riau Minta Pemerintah Tegas Jalankan Aturan Terkait Larangan Mudik Saat Nataru 2022

Riau harus berkaca dari pengalaman di tahun lalu

Jumat, 26 November 2021 14:27

Jansen Demokrat Tersinggung dengan Ucapan ‘Bego’ Denny Siregar

Kata ‘bego’ yang dilontarkan Denny, menurut Jansen sangat mencoreng nama baiknya.