5 Novel di Tanah Air Berlatar Belakang G30S/PKI

Kamis, 30 September 2021 13:01
5 Novel di Tanah Air Berlatar Belakang G30S/PKI
Novel

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Peristiwa Gerakan 30 September/PKI atau disingkat G30SPKI menjadi tragedi kelam sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa di dekade 1960-an ini tercatat dalam berbagai novel yang ditulis penulis Tanah Air. Berikut ini 5 novel yang ditulis dengan latar belakang G30S/PKI seperti dilansir dari detikcom, Kamis, 30 September 2021.

  1. Pulang (Leila S Chudori)

Lewat novel Pulang, penulis mengambil setting peristiwa G30S/PKI sebagai latar. Novel yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia itu menceritakan tentang 4 eksil politik Indonesia yang menjadi pendiri Restoran Tanah Air di Paris.

Mereka adalah Dimas Suryo, Nugroho Dewantoro, Risjaf, dan Tjahjadi Sukarna (Tjai Sin Soe). Keempatnya adalah wartawan 

Jelang peristiwa 30 September 1965, Dimas Suryo dan Nugroho harus ke Santiago, Chile, menghadiri Konferensi International Organization of Journalist. Sayangnya peristiwa 30 September 1965 itu membuat mereka tidak bisa pulang ke Tanah Air.

Baca: Termohon Polsek Tampan tak Hadir, Sidang Praperadilan Ahli Waris Pengelola Pasar Panam Ditunda

  1. Amba (Laksmi Pamuntjak)

Novel Amba karya Laksmi Pamuntjak disambut positif oleh pembaca buku Indonesia. Novel ini mengangkat cinta, sejarah, dan politik berlatar 1965.

Amba menceritakan tentang kisah tragedi antara Amba dan Vhisma di hari-hari mencekam di bulan September 1965. Pulau Buru pun menjadi latar dan saksi bisu bagi mereka yang diburu.

  1. Gadis Kretek (Ratih Kumala)

Novelis Ratih Kumala mengusung latar peristiwa 30 September 1965 sebagai cerita. Novel yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (GPU) pada 2012 mengangkat budaya Jawa khususnya mengenai pergerakan pabrik kretek di awal-awal berdirinya Indonesia.

  1. 65 Lanjutan Blues Merbabu (Gitanyali)

Kelanjutan dari novel Blues Merbabu ini terbit pada 2012. Novel 65 mengisahkan tentang memori dan perjalanan anak seorang eks-PKI saat mencoba berdamai pada masa lalu. 65 mengambil setting di kota kecil di Jawa Tengah, Bangkok sampai Hongkong, dan Jakarta.

  1. Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari)

Siapa yang tak kenal dengan mahakarya Ahmad Tohari? Ronggeng Dukuh Paruk rilis perdana pada 1982 yang menceritakan tentang seorang penari ronggeng bernama Srintil dan teman masa kecil Rasus yang berprofesi sebagai tentara.

Latar novel adalah sebuah desa kecil yang dipenuhi kemiskinan dan kelaparan itu diangkat oleh penulis asal Banyumas. Novelnya sukses diadaptasi ke layar lebar Sang Penari yang diperankan oleh Prisia Nasution dan Oka Antara. (bpc2)