Soal Ledakan Bairut, Warga Lebanon Marah Pada Presiden Aoun

Minggu, 09 Agustus 2020 12:37
Soal Ledakan Bairut, Warga Lebanon Marah Pada Presiden Aoun
Desakan dahsyat di Bairut, Lebanon – Foto: screenshot video.

BERTUAHPOS.COM — Orang-orang di Lebanon marah dengan pimpinan politik di sana, setelah 4 hari pasca-ledakan dahsyat di Bairut. 

Kemarahan itu dipicu oleh  pimpinan politik mereka yang enggan dilakukan investigasi internasional terhadap peristiwa yang memakan 154 korban jiwa itu.

Advertisement

Kemarahan mereka terhadap pimpinan politik dengan ikut turun ke jalan dalam jumlah yang besar — sekitar ribuan — beberapa dari mereka terlibat dalam bentrok dengan petugas saat gas air mata ditembakkan ke arah massa.

BBC News Indonesia  melaporkan, ada rasa ketidakpercayaan warga terhadap janji pemerintah untuk menemukan piahk yang bertanggung jawab terhadap ledakan dahsyat itu. 

Baca: Cetak Sejarah! Atlanta United Rengkuh Gelar Juara MLS 2018

Sebenarnya, ‘gerakan melawan pemerintah’ sudah meletus pada akhir tahun lalu, disaat Lebanon dihadapkan dalam krisis ekonomi dan mata uang. Kemarahan warga di sana ditandai dengan pengusiran 2 pejabat yang ingin mengunjungi puing-puing sisa ledakan dahsyat di Bairut

“Setelah 3 hari membersihkan, menyingkirkan puing-puing dan menjilati luka kami,… sekarang biarkan kemarahan kami meledak dan menghukum mereka,” kata seorang aktivis berusia 28 tahun Fares Halabi, kepada kantor berita AFP menjelang protes hari Sabtu lalu.

Presiden Akun Tolak Seruan Investasi Internasional

Sebelumnya juga sudah diketahui oleh publik bagaimana Presiden Lebanon Michel Aoun menolak tawaran penyelidikan internasional atas ledakan tersebut. Dia mengatakan pihak berwenang setempat akan memeriksa apakah itu dipicu oleh “campur tangan eksternal” seperti bom.

Dia menjelaskan, hasil investigasi sementara menyebutkan 2.750 ton amonium nitrat — yang biasa digunakan sebagai pupuk tetapi juga dapat digunakan untuk membuat bahan peledak — telah disimpan di gudang di pelabuhan. 

Bahan-bahan ini disimpan tanpa dikawal oleh pihak keamanan, dan itu sudah terjadi sejak 2014 lalu. Semuanya merupakan hasil sitaan dari kapal kargo MV Rhosus.

Tindakan ini juga salah satu pemicu ketidakpercayaan warga di Lebanon. Presiden Aoun menjanjikan penyelidikan transparan oleh otoritas Lebanon dan mereka akan dihukuman berat. 

Namun, seruan untuk penyelidikan internasional telah berkembang tidak lama setelah peristiwa ini terjadi. Presiden menolak usulan itu pada Jumat lalu. 

“Tujuan di balik seruan untuk penyelidikan internasional atas masalah pelabuhan adalah untuk mencairkan kebenaran,” ungkapnya. (bpc2)