Catatan Sejarah 3 Mei: Wafatnya Al-Fatih II, Sang Penakluk Konstatinopel

Senin, 03 Mei 2021 05:01
Catatan Sejarah 3 Mei: Wafatnya Al-Fatih II, Sang Penakluk Konstatinopel

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Pada zamannya, Konstatinopel merupakan kota yang sangat kuat dan termasyhur. Bahkan, Napoleon sang penakluk Eropa pernah berkata bahwa jika dunia adalah sebuah negara, maka Konstatinopel adalah ibukotanya.

Sejak didirikan oleh Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur), Konstatinopel telah menjadi simbol kejayaan. Kota ini juga digambarkan sangat indah dan makmur.

Advertisement

Sebagai ibukota Byzantium, Konstatinopel juga merupakan benteng yang sangat kuat. Kota ini dikelilingi tiga lautan, yaitu Selat Bosphorus, Laut Marmara, dan Selat Tanduk Emas. Di selat Tanduk Emas, terpasang rantai yang amat besar.

Dikelilingi benteng kokoh nan kuat, laut dalam, serta rantai besar, membuat Konstatinopel sangat sulit untuk ditaklukkan.

BACA JUGA:  Catatan Sejarah 30 Maret: Lahirnya Sultan Muhammad Al-Fatih II, Sang Penakluk Konstatinopel

Baca: Catatan Sejarah 26 Desember: Gempa dan Tsunami Aceh, Ratusan Ribu Tewas

Namun, kota yang seperti mustahil untuk ditakkukkan ini jatuh pada tanggal 29 Mei 1453 ke tangan pasukan muslim Turki Ustmani. Pemimpinnya adalah Sultan Mehmet II, atau lebih dikenal sebagai Sultan Muhammad Al-Fatih.

Setelah melakukan serangan dan pengepungan sejak 6 April 1453, persiapan serangan terakhir dimulai pada tanggal 26 Mei, yang berlanjut keesokan harinya. Kemudian, pada tengah malam tanggal 29 Mei, serangan besar-besaran pasukan Ustmani dimulai.

Pasukan yang menyerang dinding Blachernai yang sudah tua mampu terlebih dahulu mendobrak pertahanan Konstatinopel. Di beberapa titik lain, pasukan Ustmani juga berhasil masuk dan dengan segera menyebar ke seluruh kota.

BACA JUGA:  Catatan Sejarah 3 Februari: Sang Pembebas Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih II Naik Tahta

Kaisar Konstatinopel, Konstatinus disebutkan ikut bertempur dengan pasukannya, dan kemudian tewas. Dalam riwayat lain, Konstatinus disebutkan mati bunuh diri dengan cara gantung diri.

Setelah menaklukkan Konstatinopel, Al-Fatih kemudian mengubah namanya menjadi Islambul yang berarti kota Islam. Lama-lama, pelafalannya berubah menjadi Instanbul. Al-Fatih juga menjadikan Instanbul sebagai ibukota negaranya.

Sampai akhir hayatnya, Sultan Al-Fatih masih terus berusaha memperluas pengaruh Islam. Pada 3 Mei 1481, Al-Fatih meninggal dunia, dari berbagai sumber. (bpc4)