Trik Jitu Kalla Group Membangun Bisnis, “Filosofis Itu Penting”

Kamis, 04 Juni 2020 13:44
Trik Jitu Kalla Group Membangun Bisnis, “Filosofis Itu Penting”

BERTUAHPOS.COM — Semua orang tahu bahwa bisnis keluarga Kalla sudah sangat sukses. Ragam usaha yang dibangun oleh Kalla Group kini sudah diwarisi oleh generasi keempat.

Lantas apa resepnya, sehingga bisnis keluarga ini bisa berkembangan dan bertahan dari generasi ke generasi? Menutip Instagram @finfolkchannel dalam info grafisnya, menyebut bahwa Jusuf Kalla sendiri merupakan generasi kedua yang meneruskan bisnis Kalla Group.

Dia mengatakan bahwa sang ayah Hadji Kalla selalu mengajarkan bahwa sebuah bisnis harus menyenangkan orang lain dulu, sebelum menyenangkan diri sendiri. Itulah filosofi yang melekat pada Kalla Group yang kini diteruskan oleh generasi di bawahnya.

“Memang filosofi-filosofi itu penting, karena setiap bisnis yang dikembangkan harus punya etika dan tujuan,” ujar Jusuf Kalla.

Baca: Kantor Pos Tambah 10 Cabang Lagi

Resep kedua, bisnis harus produktif. Bisnis tak hanya sebatas untuk gengsi. Selain produktif, bagaimana bisnis yang dibangun dirasakan manfaatnya bagi orang banyak. Terutama bagi orang-orang di sekitar selain keluarga.

“Ada beberapa filosofi ayah saya yang sempat saya langgar, tapi hasilnya malah tidak berkah. Saya bikin hotel tapi gagal. Kalla Group juga menghindari membangun bisnis bank. Lebih baik memakai bank dari pada memiliki bank,” kata JK.

Selain itu, menurut JK, belajar tak hanya bisa diperoleh dari pendidikan formal tapi bisa belajar dari pengalaman. Di Kalla Group, sebelum masa kepemimpinan satu generasi selesai, telah dipersiapkan dan dididik generasi pengganti. Generasi penerus harus magang sebagaimana hidup harus menyambung.

“Ketika saya bekerja, saya membawa Solihin Kalla yang saat itu usianya baru 5 tahun. Dia mendengar dan melihat. Itu pendididikan dan pengalaman paling baik,” sebut JK.

Menurut Fatimah Kalla yang merupakan generasi ketiga penerus Kalla Group, generasi penerus akan diberlakukan budaya kerja keras.

“Saya dulu lebih sering menangis daripada karyawan lain. Lebih sering dimarahi dan dibentak-bentak. Namun keluarga kami demokratis. Semakin lama saya semakin paham,” kata Fatimah. (bpc3)