Supaya Dagangan Laris, Penjual Campur Narkoba ke Mie Dagangannya

Selasa, 14 September 2021 10:38
Supaya Dagangan Laris, Penjual Campur Narkoba ke Mie Dagangannya
Ilustrasi (net).

BERTUAHPOS.COM — Seorang pemilik warung mie di China menambahkan serbuk narkoba pada mie buatannya agar pembeli ketagihan dan kembali untuk menyantap mie yang dijualnya.

Namun aksi yang tak terpuji itu akhirnya berujung di penjara setelah polisi setempat menangkapnya.

Dilansir dari Okezone, akhir Agustus lalu, ada masuk informasi di Kantor Polisi Lunan di Kota Lianyungang, Provinsi Jiangsu China. 

Disebut pemilik warung mie lokal itu diduga memakai bahan-bahan ilegal untuk membuat makanannya lebih menggugah selera hingga ketagihan.

Baca: Cemburu, Suami Lem Kemaluan Istrinya

Sang pelapor yang menyembunyikan namanya itu rupanya baru-baru ini melihat video peringatan keselamatan publik soal pemilik usaha yang mencampur narkotika ke dalam makanan mereka. 

Hal itu cara ilegal dan melanggar hukum meningkatkan bisnis.

Lalu pelapor tersebut berpikir ada kemungkinan warung yang membuat mie kesukaannya tersebut melakukan hal yang sama. 

Pelapor tersebut kemudian membawa sampel mie langganan itu ke polisi untuk diuji, hasilnya menunjukkan bahwa terkandung tingkat papaverin yang tinggi, narkotika, dan senyawa tidak biasa lainnya.

Polisi Lunan bersama dengan Brigade Penyelidikan Lingkungan Makanan dan Obat-obatan kemudian menggeledah secara menyeluruh warung mie tersebut. 

Kemudian menyita satu wadah besar berisi minyak cabai yang dicampur dengan bahan turunan opium.

“Bumbu minyak cabai dicampur dengan bubuk opium, yang membuatnya terasa jauh lebih enak,” ujar Petugas Zhang Kaoshan.

“Hidangan mie dingin secara keseluruhan rasanya lebih enak, tetapi makanan ini bisa membuat ketagihan dan membahayakan kesehatan dalam jangka panjang,” tuturnya.

Saat diciduk polisi, pemilik warung mie, seorang pria lokal bermarga Li, akhirnya mengaku membumbui mie cabainya dengan bubuk opium. 

Li menjelaskan bahwa itu satu-satunya cara untuk bangkit dari pandemi Covid-19. Karena dia telah kehilangan banyak pelanggan selama lockdown. (bpc2)