Adab Shalat Gerhana oleh H. Sofyan Siroj, Lc, MM

Rabu, 09 Maret 2016 14:06

BERTUAHPOS.COM (BPC), PEKANBARU – Sebagai umat muslim tentunya wajib untuk menaati seluruh perintah dan ajaran agama Islam. Seperti fenomena alam Gerhana Matahari yang terjadi pada hari ini, Rabu (9/3/2016) pagi hari tadi. Dengan fenomena tersebut, dihimbau seluruh umat muslim untuk melaksanakan solat sunah Gerhana Matahari, sebagai bukti takjub atas kekuasaan Allah SWT.

Solat sunah yang dilakukan secara berjemaah di Masjid Adh-Dhiyyaa’ Komplek PLN WRKR dan PB3S Jalan Nangka, Pekanbaru. Serta khutbah yang disampaikan oleh H. Sofyan Siroj, Lc, MM dengan tema Ibrah dan Hikmah dari Gerhana Matahari dan menjelaskan tentang Adab Sholat Gerhana. Yaitu seperti berikut,

1. Menghadirkan rasa takut kepada Allah saat terjadinya gerhana bulan dan matahari. Baik karena peristiwa tersebut mengingatkan kita akan tanda-tanda kejadian hari kiamat, atau karena takut azab Allah diturunkan akibat dosa-dosa yang dilakukan.

2. Mengingat apa yang pernah disaksikan Nabi saw dalam shalat Kusuf. Diriwayatkan bahwa dalam shalat kusuf, Rasulullah saw diperlihatkan oleh Allah surga dan neraka. Bahkan beliau ingin mengambil setangkai dahan dari surga untuk diperlihatkan kepada mereka. Beliau juga diperlihatkan berbagai bentuk azab yang ditimpakan kepada ahli neraka. Karena itu, dalam salah satu khutbahnya selesai shalat gerhana, beliau “Wahai umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (Muttafa alaih)

Baca: Kepala BNPB: Sekarang Bukan Waktunya untuk Saling Menyalahkan dan Mencari Siapa yang Salah

3. Menyeru dengan panggilan “Asshalaatu Jaami’ah” . Maksunya adalah panggilan untukmelakukan shalat secara berjamaah. Aisyah meriwayatkan bahwa saat terjadi gerhana,Rasulullah saw memerintahkan untuk menyerukan “Ashshalaatu Jaami’ah”  (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

4. Tidak ada azan dan iqamah bagi shalat gerhana. Karena azan dan iqamah hanya berlaku pada shalat fardhu yang lima.

5. Disunahkan mengeraskan bacaan surat, baik shalatnya dilakukan pada siang atau malam hari. Hal tersebut dilakukan Rasulullah saw dalam shalat gerhana (Muttafaq alaih).

6. Shalat gerhana sunah dilakukan di masjid secara berjamaah. Rasulullah saw selalu melaksanakannya di masjid sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat. Akan tetapi boleh juga dilakukan seorang diri. (Lihat: Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 3/323).

7. Wanita boleh ikut shalat berjamaah di belakang barisan laki-laki. Diriwayatkan bahwa Aisyah dan Asma ikut shalat gerhana bersama Rasulullah saw. (HR. Bukhari).

8. Disunahkan memanjangkan bacaan surat. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw dalam shalat gerhana memanjangkan bacaannya. (Muttafaq alaih). Namun hendaknya tetap mempertimbangkan kemampuan dan kondisi jamaah.

9. Disunahkan menyampaikan khutbah setelah selesai shalat, berdasarkan perbuatan Nabi saw bahwa beliau setelah selesai shalat naik ke mimbar dan menyampaikan khutbah (HR. Nasa’i).

10. Sejumlah ulama menguatkan bahwa khutbah yang disampaikan hanya sekali saja, tidak dua kali seperti shalat Jumat. Sebagian ulama menganggap tidak ada sunah khutbah selesai shalat. Akan tetapi petunjuk hadits lebih menguatkan disunahkannya khutbah setelah shalat gerhana.

11.  Dianjurkan memperbanyak istighfar, berzikir dan berdoa, bertakbir, memedekakan budak, shalat serta berlindung kepada Allah dari azab neraka dan azab kubur.