Catatan Sejarah 16 Maret: Meninggalnya AR Baswedan, Si Arab Nasionalis

Senin, 16 Maret 2020 09:50

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Tahun 1934, Abdurrahman Baswedan sudah menyerukan agar semua peranakan Arab di Indonesia bersatu demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Menurut A.R. Baswedan, Indonesia adalah tanah kelahiran para peranakan Arab seperti dirinya. Oleh karena itu, harus juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Dikutip dari wikipedia, pada masa pergerakan nasional, A.R. Baswedan bergabung dan menjadi ketua Persatuan Arab Indonesia (PAI). Dengan PAI, dia gencar memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

A.R. Baswedan kemudian bergabungan dengan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Setelah Indonesia merdeka, A.R. Baswedan yang menjabat sebagai Menteri Muda Penerangan bersama sejumlah menteri lain seperti Haji Agus Salim, Muhammad Natsir, Rasyidi, dan St. Pemuncak melakukan diplomasi ke negara-negara Arab.

Baca: Belanja 3 Pack Buku Tulis di Gramedia Dapat Pencil Case Minion Gratis

Tugas mereka tidak mudah, yakni harus melobi para pemimpin Arab agar mengakui kemerdekaan Indonesia. Lobi ini berhasil membuat Mesir mengakui Republik Indonesia secara de jure dan de facto. Dokumen pengakuan ini kemudian dibawa ke Indonesia, meski harus adu lihai dengan Belanda yang berusaha menghalangi.

A.R. Baswedan masih meneruskan karir politiknya setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda. Kakek Anies Baswedan dan Novel Baswedan ini bergabung dengan partai Masyumi.

16 Maret 1986, A.R. Baswedan meninggal dunia setelah menyelesakan buku autobiografinya. Dia kemudian dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.

Atas jasanya dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, pada 8 November 2018, A.R. Baswedan diangkat menjadi Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo. (bpc2)