BERTUAHPOS — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah mengembangkan kawasan budidaya udang terintegrasi berskala besar di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Proyek strategis nasional ini memanfaatkan sekitar 2.000 hektare lahan savana tidak produktif dan menelan investasi hingga Rp7 triliun.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb. Haeru Rahayu, mengatakan proyek tersebut merupakan mega project yang akan menjadi ikon baru perikanan budidaya nasional karena mengintegrasikan seluruh rantai industri dari hulu hingga hilir.
“Kami sedang menjalankan program budidaya udang terintegrasi dari hulu sampai hilir. Ini berbeda dengan kawasan lain karena seluruh kegiatan usaha industrinya kami satukan dalam satu kawasan,” ujar Haeru dalam konferensi pers di Media Center KKP, Jakarta, Senin, 15 Desember 2025.
Kawasan budidaya udang itu berlokasi di Desa Palakahembi, Waingapu, Sumba Timur. Menurut Haeru, skala pengembangannya jauh lebih besar dibanding proyek budidaya yang pernah dilakukan KKP sebelumnya.
“Kalau budidaya nila salin di Karawang sekitar 200 hektare dan udang di Kebumen 100 hektare, maka di Sumba Timur ini luasnya mencapai 2.000 hektare. Artinya 10 hingga 20 kali lebih besar,” jelasnya.
KKP menargetkan kawasan ini mampu meningkatkan produksi udang nasional secara signifikan. Dari lahan savana yang selama ini tidak produktif, kawasan tersebut diproyeksikan menghasilkan hingga 75 ribu ton udang per tahun.
Selain mendongkrak produksi, proyek ini juga diharapkan memperkuat daya saing dan posisi tawar Indonesia di sektor perikanan budidaya global. “Ini bukan sekadar pusat produksi, tapi juga bukti bahwa Indonesia serius membangun industri perikanan budidaya secara besar dan terintegrasi,” tegas Haeru.
Menanggapi isu lingkungan, Haeru memastikan proyek tersebut tidak merusak ekosistem mangrove. Ia menegaskan lahan yang digunakan merupakan savana kering yang sudah lama tidak dimanfaatkan.
“Tidak ada mangrove yang dibabat. Lahan ini savana tidak produktif seluas lebih dari 3.000 hektare. Silakan datang dan lihat langsung,” katanya.
Proyek budidaya udang terintegrasi di Sumba Timur juga diproyeksikan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, terutama dari masyarakat lokal. KKP menargetkan hingga 10 ribu tenaga kerja akan direkrut dan dilatih secara bertahap.
“Tenaga kerjanya akan kami siapkan dari anak-anak lokal. Jumlahnya bisa mencapai 10 ribu orang,” ungkap Haeru.
Kawasan tersebut akan dilengkapi berbagai industri pendukung, mulai dari hatchery, pabrik pakan, hingga fasilitas hilir seperti pabrik es dan cold storage. Seluruh fasilitas itu dirancang dalam satu kawasan industri terintegrasi.
“Inilah konsep kawasan budidaya udang terintegrasi yang sedang kami bangun di Sumba Timur,” pungkasnya.***









