BERTUAHPOS.COM — Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) menyuarakan kegelisahan terkait pasokan gas industri manufaktur yang kian tidak menentu. Ketidakpastian volume dan lonjakan harga gas bumi mengancam keberlangsungan produksi di berbagai sektor manufaktur nasional.
“Satu-satunya cara adalah realisasi pasokan gas bumi minimal 80% dari volume yang ditetapkan dalam Kepmen ESDM Nomor 76.K/2025,” kata Ketua FIPGB Yustinus Gunawan, Rabu, 24 Juni 2026.
Berdasarkan informasi yang diterima FIPGB, PT Perusahaan Gas Negara (PGN) menyebut realisasi Alokasi Gas Industri Tertentu (AGIT) saat ini hanya sekitar 27,5 persen. Angka ini sangat jauh dari volume yang telah ditetapkan dalam keputusan menteri.
Kekurangan pasokan memaksa industri menggunakan gas di luar skema AGIT dengan konsekuensi biaya yang membengkak. Penggunaan gas non-AGIT per Juni 2026 dikenakan tarif sekitar US$20 per MMBTU.
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menilai gangguan pasokan gas industri berdampak luas pada banyak sektor usaha.“Persoalan ini sudah menjadi perhatian,” kata Dasco saat menghadiri Rapat Kerja Nasional Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) di Jakarta.
Dasco mengungkapkan ancaman nyata terhadap sektor ketenagakerjaan akibat tekanan biaya gas. Potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) diperkirakan dapat mencapai sekitar 55.000 pekerja di sejumlah pabrik keramik di wilayah Bekasi.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, menyebut kenaikan harga gas sudah di level yang menghancurkan. Harga gas industri melonjak signifikan dari sekitar US$6 menjadi US$23 per MMBTU.
Kondisi ini telah memukul telak industri keramik nasional. “Dua pabrik besar anggota kami di Bekasi sudah tutup. Granito, Milan Keramik, dan Mulia Keramik juga terancam akibat persoalan gas industri. Ini sangat berbahaya,” ujar Andi.
Dampak domino dari krisis pasokan gas industri manufaktur ini sungguh memprihatinkan. Selain hilangnya kapasitas produksi, ancaman gelombang PHK massal semakin nyata di depan mata.
Andi menambahkan pihaknya telah melakukan langkah antisipatif untuk menyelamatkan industri dan pekerja. Koordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terus dilakukan guna mencari solusi atas tekanan yang dihadapi sektor manufaktur.









