BERTUAHPOS.COM — Industri nasional yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor kini menghadapi tekanan ganda yang cukup berat di tahun 2026.
Pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan biaya impor serta keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga BI menjadi 5,50% semakin menggerus margin usaha dan menghambat kemampuan ekspansi perusahaan.
“Tekanan ganda dari biaya impor yang melonjak dan suku bunga BI yang naik sangat memperkecil ruang gerak industri untuk berkembang,” kata Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, dikutip Rabu, 10 Juni 2026.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini tidak hanya soal harga barang, tetapi juga menyangkut kelangsungan hidup perusahaan yang beroperasi dengan margin tipis.
Shinta menuturkan, kenaikan suku bunga BI berpotensi memicu imported inflation yang lebih tinggi jika stabilitas nilai tukar tidak dijaga dengan ketat.
Tanpa stabilisasi yang baik, volatilitas pasar akan semakin memberatkan dunia usaha yang harus membayar bahan baku dalam mata uang asing sambil menanggung bunga pinjaman lokal yang kian mahal.
“Ketika konsumsi rumah tangga melambat karena cicilan membengkak, sektor usaha yang bergantung pada permintaan domestik juga ikut terdampak parah,” jelas Shinta.
Hal ini semakin diperparah dengan tingginya biaya logistik global, harga energi, dan biaya kepatuhan yang terus membebani neraca keuangan perusahaan.
Dia menyebut, para pelaku usaha saat ini dihadapkan pada realitas high cost of doing business yang kompleks dari berbagai sisi sekaligus.
Dalam situasi penuh ketidakpastian, banyak perusahaan memilih menunda investasi baru, menahan diri untuk pembelian alat produksi, hingga tidak mengambil risiko untuk ekspansi properti demi mengamankan arus kas mereka.
Apindo menilai bahwa perusahaan besar masih memiliki ketahanan lebih baik dibandingkan sektor padat karya dan UMKM yang kurang memiliki akses ke sumber pendanaan beragam.
Oleh karena itu, perlindungan khusus melalui insentif fiskal dan non-fiskal menjadi sangat krusial untuk mencegah gelombang pemutusan hubungan kerja di sektor manufaktur.
Shinta mengatakan, pemerintah harus segera menurunkan hambatan struktural seperti biaya logistik dan perizinan yang selama ini menjadi beban tambahan bagi industri. Oleh sebab itu, diperlukan kebijakan yang solid antara otoritas moneter dan fiskal untuk meredam guncangan agar sektor riil tetap dapat bergerak dinamis meskipun menghadapi badai eksternal.
Selain itu, penguatan insentif bagi sektor berorientasi ekspor dan perluasan penjaminan kredit menjadi solusi strategis untuk menjaga daya saing produk Indonesia di pasar global.
Langkah-langkah mitigasi ini dinilai vital agar industri nasional tidak kehilangan momentum pertumbuhannya di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan.









