Catatan Sejarah 17 Oktober: Usman Harun Dieksekusi Mati

Sabtu, 17 Oktober 2020 05:00
Catatan Sejarah 17 Oktober: Usman Harun Dieksekusi Mati

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Petang hari, 10 Maret 1956, Singapura. Tiba-tiba, sebuah ledakan terjadi di kawasan padat Singapura, Tepatnya di gedung Hong Kong dan Shanghai Bank.

Saking hebatnya ledakan tersebut, disebutkan seluruh mobil yang parkir di gedung tersebut hancur. Gedung-gedung lain juga mendapatkan dampaknya. Terhitung, akibat ledakan tersebut, tiga orang tewas dan 33 lainnya luka-luka.

Advertisement

Ledakan tersebut dilakukan oleh tiga Korps Komando Operasi (KKO) Indonesia, Gani bin Arup, Usman Janatin, dan Harun Thohir. Mereka adalah prajurit yang mendapatkan misi memantik kekacauan di Singapura.

Setelah menyelesaikan misinya, tiga prajurit KKO (saat ini marinir) ini kemudian berusaha meninggalkan Singapura. Gani bin Arup lolos, sedangkan Usman dan Harun tertangkap. Kapal yang mereka gunakan mogok tidak jauh dari pantai Singapura, dan mereka pun tertangkap otoritas Singapura.

Baca: Ahli Hukum Tata Negara Kritik Puan Maharani Soal Sumbar Dukung Pancasila

4 Oktober 1964, dengan dakwaan melakukan pembunuhan dan membuat peledakan, Usman Harun menghadapi Mahkamah Tinggi Singapura. Usman Harun menolak dakwaan itu. Mereka mengatakan ledakan itu adalah misi dari negara Indonesia, dan meminta dijadikan tawanan perang, yang ditolak otoritas Singapura.

Keduanya akhirnya dijatuhi hukuman mati. Pemerintah Indonesia berusaha berbagai cara menyelamatkan mereka, termasuk dengan permintaan grasi kepada Presiden Singapura Keturunan Minangkabau, Yusuf bin Ishak. namun Singapura tetap bertahan dengan keputusan mereka.

Akhirnya, pada 17 Oktober 1968, Usman Harun mati dengan cara digantung. Eksekusi ini dilakukan pagi hari pada pukul 06.00 waktu setempat.

Jenazah keduanya diterbangkan ke Indonesia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada hari yang sama. Sebagai penghormatan atas jasanya, karena mereka melakukan misinya dengan sukses, Pemerintah Indonesia menganugerahkan keduanya sebagai Pahlawan Nasional.

Hubungan Indonesia-Singapura menjadi renggang sejak saat itu. Hubungan ini kembali cair setelah PM Singapura, Lee Kuan Yew berkunjung ke Indonesia pada tahun 1970. Lee Kuan Yew bersedia ziarah dan menaburkan bunga di makam Usman dan Harun, dikutip dari Tirto.id. (bpc4)