Menag Yaqut Salah Paham Soal Pupulisme Islam, Ini Kata Profesor LIPI

Senin, 28 Desember 2020 15:40
Menag Yaqut Salah Paham Soal Pupulisme Islam, Ini Kata Profesor LIPI

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengenai populisme Islam kembali menuai respon banyak pihak. 

Menurut Profesorpriset bidang sosilogi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Turmudzi, bahwa Menag Yaqut Cholil Qoumas salah paham soal populisme Islam.

Advertisement

Dia menyebut Yaqut keliru saat mengartikan populisme Islam sebagai upaya menggiring agama menjadi norma konflik. 

Justru, kata Endang, pemahaman itu lebih mendekati definisi radikalisme.

Baca: Hukum Bersalaman Setelah Salat

“Kalau popularisme Islam [dianggap] bahaya, karena memang persepsinya yang keliru; jadi populisme Islam diartikan dengan radikalisme,” kata Endang seperti dikutip dari CNNIndonesia.com, Senin 28 Desember 2020.

Endang menjelaskan populisme adalah kosakata dalam ilmu politik yang berarti gagasan dari kalangan elite yang memberikan perhatian kepada kepentingan rakyat kecil.

Populisme Islam, kata dia, bisa dimaknai gagasan yang mengartikulasikan kepentingan umat Islam. Endang mencontohkan lebih tepatnya seperti politikus yang mencoba menerapkan nilai Islam dalam berpolitik.

Mantan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu berpendapat populisme Islam tidak berbahaya. Justru tindakan itu adalah bagian dari penerapan demokrasi.

“Kalangan Islam, seperti kalangan lain, punya aspirasi, punya keinginan dalam hidup bernegara. Itu kan juga bagian dari demokrasi,” tuturnya.

Sebelumnya respon keras mengenai pernyataan Menag Yaqut Cholil soal populisme Islam juga mendapat respon keras dari politisi Gerindra Fadli Zon. Dia bahkan menantang Yaqut untuk debat publik membahas tentang populisme Islam.

Sebelumnya, Menag Yaqut Cholil Qoumas menyatakan akan mencegah populisme Islam berkembang. Ia mengartikannya sebagai upaya pihak tertentu untuk menggiring agama menjadi norma konflik.

“Agama dijadikan norma konflik. Dalam bahasa paling ekstrem, siapapun yang berbeda keyakinannya, maka dia dianggap lawan atau musuh, yang namanya musuh atau lawan ya harus diperangi. Itu norma yang kemarin sempat berkembang atau istilah kerennya populisme Islam,” kata Yaqut dalam diskusi daring, Minggu, 27 Desember 2020. (bpc2)

Berita Terkini

Kamis, 21 Januari 2021 17:32

2 UU yang Paling Banyak Digugat ke MK

#uu #UUCiptaker #UUCorona #MK

Kamis, 21 Januari 2021 16:30

Fahri Hamzah Sebut 400 Ribu Warga AS Korban Covid-19 Dampak Terbelahnya Sosial dan Politik

#FahriHamzah #joebiden #corona

Kamis, 21 Januari 2021 15:32

Covid-19 Buat Negara Rugi Hingga Rp1.000 Triliun 

#covid-19 #pandemi #nasional #finance

Kamis, 21 Januari 2021 14:31

Jokowi Beri Sinyal Vaksin Mandiri Masyarakat

#kesehatan #VaksinMandiri #Jokowi

Kamis, 21 Januari 2021 12:30

Biden Ogah Ikut Campur Soal Pemakzulan Trump

#JoeBiden #DonaldTrump #pemakzulan

Kamis, 21 Januari 2021 11:50

Berkenalan dengan LQ45 Sebelum Turun Investasi ke Saham

#LQ45 #saham #investasi

Kamis, 21 Januari 2021 11:31

Penertiban Lahan Sawit Ilegal Berjalan Lambat, Visi Riau Hijau Syamsuar Dipertanyakan

#Sawit #LahanSawitIlegal #walhi