Kisah Sebuah Sumur Bernama Ruumah

Rabu, 20 Mei 2020 17:35
Kisah Sebuah Sumur Bernama Ruumah

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Dalam suatu riwayat, Suatu ketika, Madinah dilanda kekeringan. Semua sumur mengering, kecuali 1 sumur yang bernama Ruumah. Sayangnya, Ruumah ternyata dimiliki oleh seorang Yahudi. Umat Islam harus mengantre dan membeli air kepada Yahudi ini setiap harinya, karena air merupakan kebutuhan dasar.

Penderitaan umat muslim sangat meresahkan Rasulullah SAW. Suatu hari, Rasulullah bersabda “Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang sanggup dan bersedia menyumbangkan hartanya demi membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah SWT”.

Advertisement

Mendengar hal tersebut, Ustman Bin Affan segera mendatangi Yahudi pemilik Ruumah tersebut. Ustman menawarkan untuk membeli sumur(Ruumah) tersebut 20.000 Dirham (atau kisaran Rp1,4 miliar). Harga tersebut sangat tinggi dan sebenarnya tak sebanding dengan sumur tersebut.

Namun, Yahudi pemilik Ruumah menolak. Dia mengatakan bahwa sumur tersebut adalah sumber uangnya, dan tidak akan menjualnya. “Kalau begitu, bagaimana jika aku membeli sumur ini dengan kepemilikan berganti setiap hari. 1 hari milikku, dan keesokan harinya milikmu,” tawar Ustman lagi.

Baca: Keutamaan Bersedekah di Bulan Ramadhan

Mendengar hal tersebut, Yahudi setuju. Dia membayangkan mendapatkan 2 keuntungan, yaitu dari penjualan sumur kepada Ustman, dan keuntungan penjualan air pada keesokan harinya.

Setelah Yahudi itu setuju, Ustman segera meminta umat Islam mengambil air untuk keperluan 2 hari, karena keesokan harinya Ruumah tersebut tak lagi miliknya. Umat muslim pun terbantu, dan pada keesokan harinya, tak ada lagi yang membeli air kepada Yahudi tersebut.

Mengetahui tak ada lagi yang membeli air kepadanya, Yahudi itu mendatangi Ustman Bin Affan. Dia mengatakan agar Ustman bisa membayar 20.000 Dirham lagi, dan sumur itu menjadi miliknya sepenuhnya. Dengan demikian, secara penuh Ustman membeli sumur tersebut dengan harga 40.000 Dirham (Rp2,8 miliar). (bpc2)

Disadur dari buku Abdul Syukur al-Azizi “Sejarah Terlengkap Peradaban Islam”, Terbitan Noktah, 2017