Rajanya Minta Maaf, Ini Dosa Tentara Belanda Kepada Perempuan Indonesia

Jumat, 10 Juli 2020 20:50
Rajanya Minta Maaf, Ini Dosa Tentara Belanda Kepada Perempuan Indonesia
Perempuan Indonesia menjadi korban pemerkosaan tentara Belanda. (Foto: Net)

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Raja Belanda, Willem-Alexander minta maaf atas apa yang dilakukan negara dan tentara Belanda selama menjajah Indonesia.

Permintaan maaf ini disampaikan Raja Willem saat berkunjung ke Indonesia pada Selasa, 10 Maret 2020 lalu.

Advertisement

Bukan untuk mengungkit luka lama, apa saja sih dosa Belanda, terutama tentaranya, kepada perempuan Indonesia? Berikut bertuahpos.com merangkum beberapa diantaranya:

Pemerkosaan Temiri

Baca: Mengapa Muslim Melaksanakan Ibadah Kurban? Kan Hukumnya Sunnah

Pada 19 Februari 1949, Temiri diperkosa secara brutal oleh serdadu KST Belanda di Peniwen, Malang.

Pada 27 Januari 2016, Temiri, yang sudah berumur 86 tahun, memenangkan gugatan atas pemerkosaan dirinya oleh tentara Belanda.

Di pengadilan di Den Haag, Temiri berhasil membuktikan kekejaman tentara Belanda memperkosa dirinya, meski kejadiannya berlangsung 70 tahun lalu.

Dikutip dari dutchnews.nl, pengadilan Belanda kemudian memerintahkan Belanda membayar ganti rugi sebesar 7.500 euro kepada Temiri.

Jumlah tersebut pada tahun 2016 setara dengan Rp114 juta. Jumlah yang tak sebanding dengan tekanan batin Temiri selama 70 tahun terakhir.

Kasus Asmuna

Kasus lainnya adalah seperti kesaksian JC Princen, serdadu Belanda yang membelot ke Indonesia. Princen jatuh cinta kepada gadis bernama Asmuna, yang tinggal persis dibelakang Kebun Raya Bogor.

Suatu hari, Asmuna bermaksud untuk menemui Princen di baraknya yang terletak di depan Istana Bogor.

Sayangnya, Asmuna mengalami pelecehan di gerbang barak. Karena melakukan perlawanan atas pelecehan dirinya, tentara penjaga barak menembak mati Asmuna.

“Saat itu, saya sedang berada di dalam barak. Ketika ada suara tembakan, saya mengambil senapan saya dan berlari kedepan. Alangkah marahnya saya melihat Asmuna sudah tergeletak dengan tubuh berlubang setengah telanjang di pos jaga,” ujar Princen.

Militer Belanda tak menindaklanjuti kasus Asmuna. Bahkan, Belanda memfitnah Asmuna sebagai mata-mata yang menyelinap ke markas tentara Belanda, dan terpaksa ditembak mati.

Kasus pemerkosaan Temiri dan Asmuna hanyalah satu dari banyak kasus kekerasan dan pemerkosaan perempuan Indonesia oleh tentara Belanda.

(bpc4)