Perang Saudara di Benteng Bonjol

Senin, 03 Agustus 2020 09:41
Perang Saudara di Benteng Bonjol
Ilustrasi Perang Bonjol. (Foto: net)

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Pertempuran perebutan Benteng Bonjol di Perang Padri sejatinya adalah perang saudara antar sesama pribumi Indonesia.

Menurut wikipedia Bahasa Indonesia, Belanda sendiri hanya menurunkan 1,103 tentara Eropanya di perang ini. Mereka dipimpin oleh 148 perwira, dengan komandan tertinggi Mayor Jenderal Cochius.

Advertisement

Kemudian, ada pasukan yang direkrut dari orang Afrika, yang terdiri dari 112 pasukan. Pasukan ini dipimpin oleh Kapitein Sinninghe.

Selebihnya, ada 4,130 tentara pribumi yang terdiri dari berbagai suku seperti Madura, Jawa, Bugis, dan Ambon. Mereka dipimpin 36 perwira pribumi, seperti Kapitein Noto Prawiro, Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo, dan Karto Wongso Wiro Redjo.

Baca: Catatan Sejarah 12 Agustus: Kelahiran Bung Hatta

Melihat banyaknya pasukan pribumi dalam pengepungan benteng, sangat wajar jika perang ini disebut perang saudara.

Benteng Bonjol menjadi kubu terakhir pertahanan Kaum Padri dalam perang Melawan Belanda.

Benteng Bonjol terletak diatas sebuah bukit bernama Bukit Tajadi. Bukit ini memiliki bentuk hampir tegak lurus.
Benteng berbentuk segi panjang, dan memiliki dua lapis dinding pertahanan dengan tinggi tiga meter.

Antara dinding, ada parit dengan kedalaman empat meter. Dinding terluar terbuat dari batu kokoh. Benteng ini sangat kokoh, dan membuat Belanda sangat kesulitan.

Belanda mengepung Benteng Bonjol hampir tiga tahun lamanya, dan baru pada 3 Agustus 1837 dapat dikuasai pasukan Belanda. Hingga pada akhirnya, benteng ini takluk total pada tanggal 16 Agustus 1837.

Tuanku Imam Bonjol dapat mengundurkan diri dari Benteng Bonjol dengan diikuti pengikutnya, dan terus berjuang dengan cara gerilya. (bpc4)