Catatan 30 Agustus: Referendum, Timor Timur Pilih Merdeka

Minggu, 30 Agustus 2020 07:01
Catatan 30 Agustus: Referendum, Timor Timur Pilih Merdeka

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Timor Timur sejak awal bukanlah bagian negara Indonesia yang diproklamirkan Soekarno.

Saat memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Soekarno menyebutkan wilayah Indonesia adalah seluruh bekas jajahan Belanda. Soekarno berprinsip kepada azas uti possidetis juris.

Advertisement

Azas uti possidetis juris sendiri mengatur bahwa negara jajahan yang baru merdeka, batas wilayahnya sama dengan bekas wilayah penjajahnya. Dengan demikian, Indonesia merdeka wilayahnya adalah seluruh wilayah Hindia Belanda.

Timor Timur tidaklah termasuk didalamnya. Daerah ini adalah jajahan Portugis. Namun, Soeharto tak berpikir demikian, dan tetap memasukkannya sebagai wilayah Indonesia.

Baca: Kalimat Mutiara Hari Rabu, KETIKA…

Tahun 1970, Timor Timur sebenarnya sudah bersiap untuk menjadi negara merdeka. Konstitusi di Portugis memerintahkan negara tersebut melepaskan negara jajahannya.

7 Desember 1975, Indonesia secara resmi menyerang Timor Timur dengan nama Operasi Seroja. Soeharto mendapatkan dukungan Amerika Serikat, yang khawatir wilayah itu mendapatkan pengaruh komunis.

Timor Timur dipertahankan oleh Front Revolusioner Independen Timor Timur (Fretilin), partai pro kemerdekaan. Pasukan Falintil, sayap militer Fretilin terdesak. 7 Desember 1975 malam, Kota Dili berhasil dikuasai pasukan Indonesia. Kota terbesar kedua, Baucau dikuasai pada 10 Desember 1975.

17 Juli 1976, Indonesia secara resmi memasukkan Timor Timur sebagai provinsi ke-27. Hingga akhir 1976, tercatat ada 10.000 pasukan Indonesia di Kota Dili. 20.000 lainnya menyebar di seluruh wilayah Timor Timur. Fretilin terdesak, dan tetap berjuang dengan cara gerilya.

Sejak penyerbuan Operasi Seroja, pasukan Indonesia banyak melakukan kekerasan terhadap penduduk sipil. Salah satunya adalah peristiwa Pembantaian Santa Cruz, dimana ratusan pemuda membentangkan bendera Fretilin dan meneriakkan pro kemerdekaan.

Barisan pemuda tersebut diberondong oleh tentara Indonesia. 250 pemuda tewas tertembus peluru tajam.

Kekejaman tentara Indonesia lainnya dimasukkan kedalam film berjudul Beatriz’s War pada tahun 2013. Dalam film tersebut, dimasukkan adegan tentara Indonesia membariskan puluhan laki-laki di pinggir sungai. Kemudian, tentara Indonesia menembaki barisan laki-laki tersebut.

Beatriz hanya bisa bersembunyi, dan baru bisa keluar saat para tentara itu sudah pergi. Dengan meraung-raung, Beatriz mencari mayat suaminya, Tomas.

CAVR (Commission for Reception, Truth and Reconciliation) memperkirakan ada 102.800 korban tewas akibat konflik ini. 18.600 diantaranya tewas karena dibunuh atau hilang. 84.000 tewas akibat kelaparan ataupun sakit parah.

CAVR juga menyebutkan 70 persen dari angka tersebut merupakan tanggung jawab Indonesia. Sejumlah jenderal disebutkan, diantaranya Wiranto dan Prabowo. Wiranto disebutkan bertanggungjawab atas pelanggaran HAM berat saat Indonesia invasi.

Prabowo dituding sebagai dalang pembantaian di Desa Kraras, desa terpencil yang hampir seluruh penduduknya janda, karena hampir semua laki-laki dieksekus mati.

Akhirnya, setelah kejatuhan Soeharto, Habibie memberikan referendum bagi rakyat Timor Timur. 30 Agustus 1999, rakyat Timor diberi dua pilihan, merdeka atau otonomi khusus.

Hasilnya, 78,50 persen atau 344.580 suara dari 438,968 memilih merdeka. 94.388 suara atau 21,50 persen memilih bergabung dengan Indonesia.

Akhirnya, Timor Timur bebas dari Indonesia. 20 Mei 2002, Timor Timur dengan nama Timor Leste diterima sebagai negara anggota PBB.

Mereka yang pro Indonesia kemudian mengungsi ke Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan jumlah 24.524 kepala keluarga, atau 104.436 jiwa. (bpc2)