Hasil pilpres menggairahkan pasar

Rabu, 23 Juli 2014 07:58

BERTUAHPOS.COM, JAKARTA – . Penetapan hasil pemilihan umum presiden (pilpres) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) (22/7) bisa memberi angin segar bagi pasar obligasi domestik. Terpilihnya Joko Widodo–Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden tahun 2014–2019 bisa memberikan harapan baru.

Global Markets-Financial Analyst Manager PT Bank Internasional Indonesia Tbk Anup Kumar mengatakan, penetapan hasil pilpres setidaknya memberi kejelasan arah bagi kepastian politik Indonesia. Hanya saja, pasar modal baik saham maupun obligasi masih berisiko terkoreksi lantaran pernyataan calon presiden Prabowo Subianto yang menolak hasil pilpres 2014. “Ini sempat membuat market panik,” ujar Kumar.

Namun ia menilai, kepanikan pasar ini tidak akan berlangsung lama. Pasar masih yakin, pasangan Joko Widodo–Jusuf Kalla bakal memimpin dengan baik hingga masa jabatan berakhir. Yang kini jadi perhatian pasar adalah komposisi kabinet yang akan dibangun oleh Joko Widodo – Jusuf Kalla. “Terutama posisi Menteri Keuangan. Siapa yang akan mengisi,” tambah Kumar.

Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih mengatakan hal serupa. Menurutnya tren obligasi pemerintah akan naik hingga akhir tahun ini.
Hanya saja, ia menilai tren obligasi korporasi akan sulit menanjak. “Pak Jusuf Kalla sudah bilang pada 100 hari pemerintahannya akan mengkaji harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi,” ujar Lana. Ini kemudian menimbulkan ekspektasi harga BBM akan naik pada tahun ini maupun tahun depan.

Baca: Harga BBM Naik, Indonesia Bakal Keluar dari “Fragile Five”

Dana asing bertambah

Menurut Lana, kenaikan harga BBM bakal membuat inflasi naik dan cenderung mendorong kenaikan BI rate. Jadi, emiten penerbit obligasi korporasi mau tidak mau harus menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi.

Minat emiten menerbitkan obligasi mungkin akan berkurang. Apalagi saingan obligasi korporasi bukan hanya obligasi pemerintah tapi juga deposito di beberapa bank. “Deposito negosiasi di salah satu bank BUMN misalnya, menawarkan bunga 11% hanya untuk enam bulan,” ujar Lana.
Namun Lana tetap optimistis total penerbitan obligasi maupun sukuk korporasi sepanjang 2014 bisa mencapai Rp 50 triliun karena kebutuhannya masih tinggi.

Dengan ekspektasi segalanya akan berjalan lancar, Kumar meyakini pasar obligasi domestik bisa terapresiasi. Ia menduga pada akhir tahun 2014 ini, posisi dana asing di obligasi pemerintah bisa naik menjadi 36% dengan nominal bisa mencapai Rp 412 triliun hingga Rp 417 triliun.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU), per 17 Juli 2014 menunjukkan posisi dana asing di obligasi pemerintah sebesar Rp 405,39 triliun atau setara 35,63% dari seluruh nilai nominal obligasi pemerintah yang dapat diperdagangkan.

“Dengan situasi saat ini, Yield SUN tenor 10 tahun, saya rasa masih di kisaran 8%-8,2% pada akhir tahun ini,” tambah Kumar. Padahal, yield surat utang itu sempat turun ke level 7,9%. Namun Kumar menilai, pencapaian itu hanya sebatas euforia pasca pilpres (Kontan)