LandX Perkenalkan Model Bisnis Patungan Secara Digital Kepada Milenial di Riau Lewat ISCFF 2021

Senin, 13 September 2021 13:59
LandX Perkenalkan Model Bisnis Patungan Secara Digital Kepada Milenial di Riau Lewat ISCFF 2021
Co-Founder & CMO at LanX Romario Sumargo

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — PT Numex Teknologi Indonesia atau yang populer dengan nama LandX akan menyelenggarakan Indonesia Security Crowdfunding Forum 2021 (ISCFF 2021) pada rangkaian ke-2 yang akan diselenggarakan di kota Pekanbaru, Riau, Senin, 13 September 2021.

Co-Founder & CMO at LanX Romario Sumargo mengungkapkan, ISCFF 2021 merupakan rangkaian kegiatan edukasi inklusi keuangan yang mengundang para pelaku bisnis, pakar investasi dan investor yang sebagian besar anak muda melalui kegiatan webinar.

“Di sini juga UMKM Clinic serta forum interview yang akan diselenggarakan di 12 kota di Indonesia, dan Pekanbaru adalah kota kedua dilaksanakannya ISCFF 2021,” tuturnya dalam konferensi pers secara virtual, pada Senin, 13 September 2021.

Dalam ajang yang bertajuk; Patungan bisnis di tengah masa pandemi melalui metode Securities Crowdfunding, LandX menghadirkan beberapa pakar keuangan dan UKM. “Mereka akan memberikan bekal kepada anak muda di daerah seputar model investasi yang sedang menjadi tren saat ini,” jelasnya. 

Baca: Sekolah Tatap Muka Gagal Dilaksanakan, Pj Sekda Kuansing: Kita Cek Kesiapan Sekolah

Dia menambahkan, selain menyasar kaum muda, LandX melalui ISCFF 2021 juga mengajak para pelaku UMKM di Pekanbaru, yang memiliki potensi besar dalam mendorong pembangunan ekonomi di Indonesia maupun daerah, mengingat keberadaan UMKM di daerah berperan penting dalam hal membantu menumbuhkan daya ungkit perekonomian daerah di tengah pandemi.

“Dengan adanya ISCFF 2021, diharapkan para anak muda dapat mengenal dan belajar akan finansial terutama keuangan dan investasi digital serta dapat melahirkan iklim investasi yang positif bagi anak muda Indonesia,” tambahnya.

ISCFF 2021 di Pekanbaru, merupakan wujud nyata komitmen LandX dalam meningkatkan literasi anak muda akan investasi digital. Dengan 2,8 juta potensi anak muda yang berada di Riau — menurut data yang dikeluarkan BPS pada 2019, “kami berharap literasi ini dapat meningkatkan jumlah anak muda yang melakukan investasi atau menjadi seorang investor,” sebutnya.

Dalam kesempatan itu, Romerio Sumargo juga menyebut bahwa pemahaman literasi akan berdampak terhadap jumlah masyarakat yang melakukan investasi. 

Menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), sejauh ini baru 1,2% atau sebanyak 3,2 Juta orang Indonesia memiliki saham atau investasi di pasar modal. 

Selain anak muda, melalui ISCFF 2021 juga mengajak para pelaku UMKM yang berada di Pekanbaru, Riau yang memiliki potensi besar dalam mendorong pembangunan ekonomi di Indonesia maupun daerah.

Event ISCFF 2021 juga dilakukan untuk mendukung UKM agar dapat bertransformasi ke digital agar dapat bertahan pada kondisi saat ini dan mengikuti perubahan zaman yang serba daring,” sambung Romerio.

Data dari asosiasi e-commerce, saat ini UMKM yang sudah menggunakan digital naik cukup signifikan yakni dari 13% pada tahun lalu menjadi 23,9% atau 15,2 juta UMKM. Hal ini berbanding lurus dengan event yang diadakan oleh LandX dan menjadi kunci pemulihan ekonomi secara nasional ke depannya.

Untuk informasi, LandX adalah platform equity crowdfunding, di mana telah digunakan oleh 44.636 pengguna (Investor) yang berpartisipasi dalam penggalangan dana untuk pengembangan usaha yang dilakukan oleh bisnis, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), dan usaha rintisan (startup) secara online, dan mendapatkan saham sebagai imbalannya. 

Sejak berdirinya di tahun 2019, LandX sudah berhasil menyalurkan dana hingga 106,54 miliar rupiah kepada 20 pelaku usaha rintisan dan telah membagikan dividen sebesar 1,94 miliar rupiah kepada para investornya.

Sementara itu, Ketua HIPMI Kota Pekanbaru R. Bagus Oka menjelaskan, bahwa yang dihadapi para pelaku UMKM di Riau, khususnya Pekanbaru, saat ini terkendala pada bagaimana mereka bisa bertahan. “Namun secara umum kondisi usaha bagus, hanya saja untuk bertahan yang sulit,” sebutnya.

Hal ini tentunya akibat kondisi castflow usaha mereka yang terganggu sebagai dampak nyata dari pandemi Covid-19. “Mau tak mau, UMKM itu harus melakukan pengurangan, mulai dari pengurangan kapasitas tempat hingga  jam operasional. Mereka butuh tambahan modal untuk bisa bertahan yang nantinya itu bisa menjadi keuntungan. Kami harap dengan ISCFF 2021, nanti kita dapat gambaran baru,” sebutnya.

Founder MeetUp Coworking Space Sheilla Priscillia menuturkan, sejauh ini dari persiapan ISCFF 2021, Senin, 13 September 2021, rata – rata peserta yang ikut 40% adalah para pelaku usaha, 50% pelajar, dan 10% lainnya peserta umum.

“Kami harap dengan kegiatan ini dapat membangun ekosistem ekonomi kreatif dan starup digital untuk di daerah, yang memang kondisinya saat ini tidak sebagus ibu kota. Makanya sekarang kita berusaha mengedukasi temen-temen. Luar biasa keinginan untuk belajarnya. Kami juga perlu bantuan dari pihak lainnya agar tidak berhenti sampai di sini,” ungkapnya. (bpc2)