Korban Puting-beliung Sempat Terlantar Dua Hari

Senin, 16 Juni 2014 11:00

BERTUAHPOS.COM, TEMBILAHAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Inhil dinilai tidak tanggap atas penanganan korban bencana puting-beliung di Desa Bekawan, Kecamatan Mandah, Sabtu (14/6/14) lalu.

Sangat disayangkan, pihak BPBD Inhil hanya menyerahkan bantuan saja, Sabtu (14/6/14) sore, setelah itu mereka langsung pulang ke Tembilahan. Seharusnya mereka harus ada yang bertahan bagi mengkoordinasikan dan menyiapkan evakuasi bagi korban.

“Kami sangat menyayangkan langkah BPBD Inhil yang hanya datang menyerahkan bantuan saja, seharusnya diantara mereka ada yang bertahan bagi mengkoordinasikan dan menyiapkan penempatan lokasi bagi korban yang rumahnya langsung hancur,” sesal Yanto, warga Desa Bekawan, Senin (16/6/14).

Lanjutnya, sebagai badan yang khusus menangani bencana, maka BPBD harus tanggap dan benar-benar serius dan memetakan secara menyeluruh apa saja yang dibutuhkan para korban sampai minimal kebutuhan dasar dan traumatik mereka akibat bencana puting-beliung ini dapat diatasi mereka.

Baca: Akhirnya, Setelah Belasan Tahun Riau Miliki RTRW

Berdasarkan pengamatan riauterkinicom, para korban sempat terlantar dan kurang diperhatikan sejak hari pertama sampai hari kedua sesudah bencana puting-beliung tersebut. Hari pertama, korban baru menerima bantuan makanan nasi bungkus dari para relawan pemuda sore harinya.

Pada malam harinya, para korban yang rumahnya tidak bisa ditempati, terpaksa bermalam di emperan rumahnya dan ada yang menumpang di rumah saudara mereka. Belum ada upaya pihak pemerintah desa membuatkan posko buat korban ini.

Pada hari kedua, Ahad (15/6/14) malam barulah pihak desa menempatkan para korban yang rumahnya hancur di Puskesmas Rawat Inap Desa Bekawan yang sampai saat ini belum juga difungsikan. Malam itu, para korban juga mendapatkan bantuan makanan berupa nasi putih dan lauk indomie rebus saja.

Salah seorang tenaga medis di Desa Bekawan, Emi menyampaikan, saat ini kebutuhan obat-obatan khususnya obat pencernaan dan tensi sangat diperlukan, karena para pengungsi ini sangat rentan dengan penyakit gangguan pencernaan dan tensi ini.

“Seharusnya hal-hal semacam ini yang harus dikoordinasikan dan ditangani cepat pihak BPBD, bukan diserahkan begitu saja dengan pihak desa menanganinya,” sesal Yanto.

Selain itu, sampai hari ini belum ada pejabat Pemkab Inhil yang menjenguk para korban tersebut.(Riauterkini)