Efek Kabut Asap, 24 Ribu Warga Riau Terserang ISPA

Jumat, 30 Agustus 2013 05:02
BERTUAHPOS, PEKANBARU – Sejak Riau diselimuti asap dari kebakaran lahan dan hutan, tercatat ada 24 ribu masyarakat terkena infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Kabut asap muncul dalam beberapa hari ini, memunculkan 144 kasus baru ISPA di Pekanbaru.
Â
Demikian disampaikan, Kasi Kesehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan Pemprov Riau, Diwani kepada wartawan, Kamis (29/8/2013). Menurutnya, kabut asap dari kebakaran lahan dan hutan di Riau terhitung sampai Juli terdapat 24 ribu masyarakat terserang Inpeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
Â
“ISPA mengakibatkan masyarakat terkena penyakit asma, batuk, flu dan kulit. Mereka yang mudah terserang itu tentunya karena kondisi tubuhnya yang sudah rentan. Namun masyarakat yang mungkin sekarang masih kuat, jika terus menerus terkena asap, nantinya juga menjadi rentan dan mudah terserang ISPA,” kata Dawani.
Â
Data Juli 2013 tersebut, merupakan laporan kasus ISPA dari seluruh kabupaten. Laporan ini tentunya data yang ada di sejumlah Puskesmas. Untuk kebakaran lahan terhitung beberapa hari terakhir ini, Dinas Kesehatan Riau belum menerima laporan dari kabupaten secara keseluruhan.
Â
“Kita baru menerima laporan dari Pemkot Pekanbaru untuk dua hari ini ada 144 kasus ISPA. Kita harapkan, per kabupaten segera melaporkan kasus penyakit ISPA imbas dari asap kebakaran lahan,” kata Dawani.
Â
Untuk mengantisipasi terserang penyakit ISPA, kata Dawani, pihaknya telah mengirimkan 40 ribu masker ke empat daerah paling banyak kabut asap. Empat kabupaten itu adalah Pelalawan, Pekanbaru, Inhu dan Dumai.
Â
“Empat wilayah ini menjadi prioritas kita karena asap cukup pekat. Kita sudah distribusikan masing-masing 10 ribu masker,” kata Dawani.
Â
Masyarakat juga diminta memeriksakan kesehatannya selama kabut asap. Puskesmas akan melayani secara gratis bagi warga yang memiliki kartu Jamkesda dan Jamkesmas.
Â
“Pemeriksaan kesehatan ISPA di Puskesmas ini akan melayani secara gratis bagi warga yang tidak mampu dengan menggunakan kartu Jamkesda atau Jamkesmas,” kata Dawani.
Â
(detik.com)