Tenun Ikat, Memuliakan Perempuan

Minggu, 21 Juli 2013 11:30
DI Dusun Ndao, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, perempuan tidak hanya dimuliakan karena kecantikannya, tetapi juga karena keterampilan menenun kain ikat. Itulah yang ditunjukkan Fransina Pandu dan perempuan lainnya di kabupaten paling selatan Indonesia.
 
Sambil duduk di balai-balai depan rumahnya, wanita berusia 67 tahun itu begitu cekatan mengurai benang tenun. Ia hanya ditemani Eni Fia (35), putrinya, yang ikut membantunya menggantungkan kain tenun ikat produksinya.
 
Selain Fransina dan Eni, di depan teras duduk sejumlah perempuan Ndao lainnya. Mereka siap menenun sambil menanti rekan-rekannya pulang dari ibadah di Dusun Ndao, baru-baru ini. Sejumlah peralatan menenun tampak siap digunakan.
 
Adapun di teras rumah panjang yang terbuat dari bambu dan kayu itu, sejumlah kain tenun ikat beragam bentuk, seperti selimut, baju kemeja pria dan wanita, selendang, taplak meja, dompet, serta tas, dipamerkan dengan aneka warna dan motif.
 
Di rumah petak berjajar yang ditempati 35 keluarga Dusun Ndao, termasuk Fransina dan Eni, itulah salah satu ”pusat” kerajinan kain tenun ikat Dusun Ndao, Kecamatan Lobalain. Kegiatan tenun-menenun sudah dilakukan sejak nenek moyang mereka.
 
Sarang laba-laba
 
Menurut Fransina, tradisi menenun di Dusun Ndao berawal dari sarang laba-laba. Konon, seorang perempuan Ndao menyaksikan seekor laba-laba besar yang membuat jaring-jaring yang rapi dengan lendirnya yang seperti lem. Awalnya, jaring-jaring dari lendir itu berlubang besar. Namun, lama-kelamaan semakin kecil dan akhirnya membentuk lembaran kain.
 
Pengetahuan itu hanya dipraktikkan pada daun lontar, tetapi kemudian dialihkan pada benang yang dihasilkan dari kapas. Meskipun kawasan ini dikenal tandus, cocok untuk ditanami tanaman kapas, jagung, dan kacang-kacangan.
 
Selain petani, mata pencarian mayoritas warga adalah nelayan. Sementara hampir seluruh kaum wanitanya adalah penenun. ”Semua perempuan Ndao menjadi berarti apabila terampil menenun dalam berbagai motif, gaya, jenis, dan sesuai selera konsumen. Menenun menjadi satu kewajiban mulia bagi perempuan. Filosofi menenun selalu dihayati semua kaum perempuan di sini,” tutur Fransina.
 
Bahkan, setiap anak perempuan wajib menenun sejak masih kanak-kanak atau berusia 5 tahun. ”Kesempurnaan seorang perempuan Ndao terletak pada keterampilannya menenun,” lanjut janda dua anak itu.
 
Saat mulai menenun, tambahnya, ibarat seorang anak perempuan yang masuk ke dunia pendidikan. ”Kalau sekolah dasar (SD) harus masuk usia enam tahun, menenun diwajibkan usia lima tahun. Karena hanya dengan menenun, kami bisa hidup. Di Pulau Ndao sendiri, tiap hari, kaum perempuan selalu menenun meskipun hanya beberapa jam,” ujarnya.
 
Dengan bekal keterampilan menenun yang dikuasainya, seorang perempuan Ndao akan sangat dihargai di mata kaum pria. Kekerasan dalam rumah tangga pun dapat dihindari dengan memiliki keterampilan tersebut. ”Oleh karena itu, nilai emas kawin seorang perempuan Ndao diukur dari keterampilannya menenun,” kata Fransina.
 
Alasannya, dengan menenun, seseorang butuh kesabaran, ketekunan, kelemahlembutan, pengorbanan, dan kesederhanaan. Itu karena, untaian-untaian benang berukuran 0,5-0,7 milimeter, yang beraneka warna, dirangkai dengan lurit atau sebatang kayu halus berukuran 1 meter dan lebar 10 sentimeter yang berfungsi menekan atau merapatkan benang-benang itu untuk membentuk lembaran-lembaran kain.
 
Namun, kata Eni, hanya orang yang kesulitan ekonomi dan materi yang mampu menenun kain ikat tersebut. ”Satu kain tenun ikat bisa diselesaikan keseluruhannya dalam satu bulan. Namun, jika dikerjakan setiap hari, dari pagi hingga malam, kain tenun itu bisa diselesaikan dalam tiga hari,” lanjutnya.
 
Sebenarnya, hingga tahun 1995, warga Ndao masih menggunakan benang asli yang berasal dari tanaman kapas yang ditanam dan diproses secara manual. Bahkan, kaum perempuan Ndao juga ikut membantu para suami menanam tanaman kapas tersebut.
 
Selain memanen, mereka kemudian memprosesnya menjadi benang secara manual, dengan cara memisahkan kapas dari biji-bijinya. Sebelumnya, kapas dihaluskan dengan tangan terlebih dulu. Potongan-potongan kapas kemudian disambung dan diputar dengan alat yang terbuat dari kayu. Seperti putaran gasing, peralatan tersebut diputar dengan bantuan jari-jari tangan.
 
Tenun Ikat khas Pulau Inandao Kabupaten Rote Ndao, dipajang disamping rumah di desa wisata kampung Inandao, Baa, ibu kota Rote Ndao. Kampung ini selalu dikunjungi wisatawan, membeli tenun ikat khas Inandao dan berbagai cinderamata lainnya
 
Pintalan benang tersebut selanjutnya digulung dan kemudian diberi warna sesuai dengan selera masing-masing dengan zat pewarna tradisional. Cara pewarnaan pun tak mudah. Dengan cara dimasak, benang yang diwarnai, warnanya akan lebih bertahan.
 
”Namun, kain sarung yang dihasilkan dari benang jenis tersebut dinilai kasar, berat, dan mudah luntur jika pewarnaannya tidak kuat. Tenun ikat jenis ini pun jarang diminati orang untuk dikenakan sehari-hari. Mereka mengenakannya pada saat acara adat,” ujar Eni.
 
Berkembang dinamis
 
Namun, sejak tahun 1997, benang-benang tenun mulai digantikan dengan benang tenun buatan pabrik, yang ramai dijual di toko-toko di Kota Kupang. ”Benang pabrikan lebih halus, lembut, dan ringan sehingga menghasilkan kain tenun ikat yang lebih berkualitas daripada sebelumnya,” katanya.
 
Salah satu kekhasan kain tenun ikat Ndao adalah motif tenun ikat Rote yang berubah-ubah secara dinamis. Suatu saat bisa bermotif binatang, seperti cecak, ayam, sapi, kerbau, atau bisa juga lontar. Namun, suatu saat bisa saja bermotif burung, panah, parang, dan tombak, atau alat musik sasando.
 
”Belakangan, turis asing juga meminta motif tertentu, sesuai dengan selera mereka sendiri,” kata Eni.
 
Keanekaragaman motif itulah yang mendorong sejumlah sekolah di Rote mengirim anak-anak sekolah menengah pertama dan menengah atas mengikuti keterampilan menenun dasar di Dusun Ndao. Rata-rata setiap sekolah mengutus 5-10 anak perempuan.
 
Sayangnya, para penenun di Dusun Ndao mengaku tak pernah mendapat bantuan sama sekali dari Pemerintah Kabupaten Rote Ndao. Tenunan mereka juga tak pernah dipromosikan. Warga pun berjuang sendiri menjual kain tenunan mereka ke Kupang.
 
”Kalau ada pameran 17 Agustusan di Rote dan di Kupang, kami ikut secara sukarela. Semua biaya ditanggung perajin tanpa dukungan dari pemerintah,” tuturnya.
 
Stef Duli (53), warga dusun Ndao, menambahkan, meski tak ikut menenun, kaum pria membantu memasarkannya ke Kabupaten Rote Ndao, Kota Kupang, dan Kabupaten Kupang. ”Istri dan tiga anak perempuan saya ada di Ndao untuk menenun. Kami yang akan menjual dan mempromosikan tenunan,” ujarnya. 
 
(kompas.com)