Rakor Pengadaan Barang Jasa, Jokowi Berang Lagi: Terus Ngerjainnya Kapan?

Kamis, 19 November 2020 10:33
Rakor Pengadaan Barang Jasa, Jokowi Berang Lagi: Terus Ngerjainnya Kapan?
Ekspresi marahan Presiden Joko Widodo. (CNBC Indonesia / Edward R)

BERTUAHPOS.COMPresiden Joko Widodo atau Jokowi berang lagi saat menghadiri Rakor Pengadaan Barang dan Jasa pemerintah di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Kamis, 19 November 2020.

Kejengkelan Jokowi masih berkutat para leletnya kerja anak buahnya dalam merealisasikan pekerjaan dan anggaran. Ini bukan pertama Jokowi meluapkan kekesalannya di depan publik, seperti dikutip dari CNBC Indonesia.

Advertisement

“Tadi pak Ketua LKPP [Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah] menyampaikan ini bulan November sudah tanggal berapa ini? 18 November, masih ada yang untuk proses konstruksi. Ini konstruksi lho ya. Masih dalam proses Rp 40 triliun. Terus ngerjainnya kapan?,” kata Jokowi dengan nada meninggi.

Kepala Negara tak habis pikir dengan rendahnya serapan belanja pengadaan barang dan jasa di pemerintah. Jokowi lantas mengungkap alasan kenapa akselerasi belanja tidak ada perubahan setiap tahunnya.

Baca: Besar, UAS Dapatkan Rp400 Juta Per Tahun dari Youtube

“Terus nanti kalau misalnya itu selesai, jadi barangnya kaya apa? Kalau bangun ya ambruk. Kalau jembatan ya ambruk. Hanya berapa bulan. Jangan sampai sekali lagi, diulang-ulang semuanya, menumpuk di akhir tahun,” jelasnya.

Menurutnya, lambatnya proses pengadaan baik itu yang berasal dari belanja pemerintah pusat maupun daerah menjadi penyebab utama. Selain itu, ditambah sikap sejumlah instansi pemerintah yang bekerja biasa-biasa saja dalam situasi sekarang.

“Akibatnya yang tadi saya sampaikan, realisasi belanja yang sudah dianggarkan baik di APBN, APBD menjadi terhambat. November masih Rp40 triliun dan itu adalah konstruksi,” katanya.

Akselerasi belanja pemerintah saat ini menjadi harapan yang bisa mendorong perekonomian nasional. Belanja pemerintah diharapkan meningkatkan perputaran uang di masyarakat.

“Kita ingat di kuartal kedua konsumsi pemerintah berada di -6%. Di kuartal ketiga kita sudah masuk ke positif 9% kurang lebih. Itulah yang men-trigger pertumbuhan ekonomi kita,” kata mantan Wali Kota Solo ini. (bpc2)