Ternyata, Penyakit Tak Menular Jadi ‘Pembunuh’ Nomor Satu

Selasa, 07 Juli 2020 13:33
Ternyata, Penyakit Tak Menular Jadi ‘Pembunuh’ Nomor Satu
dr. Suwignyo. (Foto: Oong / Bertuahpos)

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU —Tak banyak yang tahu kalau ternyata penyakit tak menular itu merupakan pembunuh nomor satu.

Secara umum memang, seperti yang diketahui bahwa penyebab penyakit tak lepas dari kuman, bakteri, virus, dan parasit, bahkan seperti masa pandemik di tahun 2020.

Advertisement

Itu disebabkan lingkungan biologi dan perilaku yang tidak sehat, seperti yang pernah dikatakan Dr Hendrik Blumm, seorang tokoh kesehatan masyarakat asal USA di akhir abad 19.

Faktor Penyebab

Lingkungan kimiawi juga bisa menyebabkan datangnya penyakit tak menular atau penyakit lainnya.

Baca: Sihir Messi, Liverpool Telan Kekalahan 3-0 di Kandang Barcelona

“Faktor lingkungan kimia bisa jadi penyebab penyakit. Kalau terpapar pada manusia dalam waktu lama, maka akan bisa akut. Bisa seperti nuklir pada manusia. Dosis rendah saja, tubuh manusia tidak bisa mentolerirnya,” kata dr. Suwignyo, direksi Rumah Sakit Prima Pekanbaru satu kali.

Ada pergeseran penyebab penyakit. kini lebih banyak karena inveksi, “Kalau kita bicara penyakit, penyakit tidak menular menjadi pembunuh nomor satu, contohnya penyakit jantung. Kemudian ginjal, penyakit kencing manis, nah itu semua berhubungan dengan habbit bukan disebabkan oleh kuman,” yakin dokter yang mengambil strata dua bidang kesehatan masyarealkart ini.

Kata Winyo lagi, rokok juga pemicu penyakit dari lingkungan kimia. “Kalau kita bicara pabrik rojok, sebenarnya masih banyak potensi yang bisa dikembangkan, karena bisnis rokok sangat menguntungkan hanya bagi taipan (konglomerat keturunanan di Indonesia). Ada salah satu agen tunggal pemegang merk rokok tertentu, satu bulan saja omset nya sampai 6 sampai 7 triliun. Cukup terkenal bukan yang sangat terkenal,” tambahnya.

“JIka kita bicara mematikan pasarnya, alasannya bisa mematikan cukai negara. Padahal sudah terbantahkan, berapa besar cukai dibanding pengeluaran dari cost pengobatan?,” kritik Wignyo.

Faktor ketiga yang mempengaruhi kesehatan masyarakat yaitu pelayanan kesehatan. Seperti pelayanan kesehatan dari BPJS.

“Pengelolaan BPJS dalam menyediakan anggaran kesehatan, karena BPJS dibentuk demi menjamin kesehatan masyarakat. BPJS punya anggaran berasal dari iuran kepesertaan, lalu dikatakan BPJS devisit, karena harus membaya claim kesehatan pada Puskesmas dan Rumah Sakit, maka pemerintah karus menanggung devisit itu,” tambah Wignyo.

Yang keempat faktor herediter, alias keturunan. “Faktor ini bawaan takdir Allah seseorang memiliki bakat penyakit. Walaupun ada faktor lain yang ikut mempengaruhi, kalau aktivitas fisik dijaga, berarti ada upaya menurunkan kemungkinan terjangkit penyakit,” tutup Wignyo. (bpc5)