BERTUAHPOS — Saham PT Aneka Tambang Tbk (Antam/ANTM) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis, 26 Maret 2026. Hingga sesi I sekitar pukul 10.38 WIB, saham perusahaan tambang emas milik negara tersebut turun 2,76 persen dan berada di level Rp3.520 per saham, melanjutkan tren pelemahan yang sudah terjadi sejak sehari sebelumnya.
Aktivitas perdagangan saham ANTM terpantau cukup ramai. Sebanyak 53,41 juta saham berpindah tangan dengan frekuensi transaksi mencapai 21.479 kali dan nilai perdagangan sekitar Rp190,4 miliar. Meski volume tinggi, arah pergerakan harga menunjukkan dominasi aksi jual di pasar.
Data perdagangan menunjukkan tekanan jual cukup besar datang dari investor. Berdasarkan catatan aplikasi Stockbit Sekuritas, saham Antam membukukan net sell sebesar Rp84,6 miliar pada perdagangan hari ini. Kondisi tersebut memperlihatkan pelaku pasar cenderung melepas posisi di tengah sentimen negatif sektor emas.
Pelemahan ini menjadi lanjutan dari perdagangan Rabu, 25 Maret 2026, ketika saham ANTM juga ditutup turun 3,47 persen. Pada sesi tersebut, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih hingga Rp219,05 miliar, memperkuat tekanan terhadap harga saham.
Koreksi saham Antam terjadi seiring melemahnya harga emas global dalam beberapa waktu terakhir. Logam mulia sebelumnya mengalami penurunan tajam setelah imbal hasil obligasi global melonjak, membuat investor beralih ke aset berbunga yang dianggap lebih menarik.
Pada 19 Maret 2026, harga emas spot tercatat anjlok 3,73 persen ke level US$4.813,88 per troy ons. Sepanjang perdagangan hari itu, harga emas bahkan sempat menyentuh titik terendah sejak 6 Februari 2026, memicu perubahan sentimen pasar terhadap saham berbasis komoditas emas.
Dalam laporan pemantauan pasar mingguan terbaru, analis World Gold Council (WGC) menilai pelemahan emas dipicu kenaikan imbal hasil riil serta ekspektasi kenaikan suku bunga kebijakan sepanjang 2026. Selain itu, aksi pengurangan utang dan realisasi keuntungan oleh investor turut membebani pergerakan harga emas global.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada saham emiten tambang emas seperti Antam yang kinerjanya sangat dipengaruhi fluktuasi harga komoditas. Ketika harga emas terkoreksi, proyeksi pendapatan perusahaan ikut tertekan sehingga memicu aksi jual di pasar saham.
Pelaku pasar kini menunggu arah baru harga emas dunia dan kebijakan moneter global sebagai penentu pergerakan berikutnya. Selama tekanan eksternal masih berlangsung, volatilitas saham sektor tambang, termasuk ANTM, diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek.***









