BERTUAHPOS — Nilai tukar rupiah (IDR) diprediksi akan kembali tertekan pada awal pekan depan, Senin, 10 November 2025, setelah pada perdagangan Jumat, 7 November 2025, sempat menguat tipis 11 poin menjadi Rp16.690 per dolar AS.
Dilansir dari Investor.id, Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di rentang Rp16.690–Rp16.740 per dolar AS. Ia menilai tekanan terhadap rupiah masih tinggi akibat faktor eksternal dan domestik yang belum kondusif.
“Untuk perdagangan Senin depan, rupiah cenderung fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.690–Rp16.740,” jelas Ibrahim dalam keterangan tertulis, Jumat, 7 November 2025.
Menurutnya, pelemahan rupiah salah satunya dipicu oleh ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat yang kini menghadapi government shutdown selama dua bulan berturut-turut.
Kondisi tersebut menyebabkan tertundanya sejumlah laporan ekonomi penting, termasuk data ketenagakerjaan dan inflasi AS.
Ibrahim menambahkan, laporan pekerjaan swasta menunjukkan tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja AS, sehingga memicu spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) dapat memangkas suku bunga lebih cepat dari perkiraan. “Survei menunjukkan peluang penurunan suku bunga sekitar 70% pada Desember, naik dari 60% sehari sebelumnya,” paparnya.
Selain itu, pelemahan ekspor dan impor China pada Oktober 2025 juga memberi tekanan terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah. Penurunan neraca perdagangan Negeri Tirai Bambu menandakan lemahnya permintaan domestik dan tekanan perdagangan yang berlanjut.
“Ketegangan antara Washington dan Beijing juga menambah kekhawatiran pasar,” ujarnya. Laporan media internasional menyebut AS berencana memblokir Nvidia dari menjual chip AI berkapasitas kecil ke China, yang berpotensi memperburuk tensi perdagangan dan menghambat akses China terhadap teknologi tinggi.
Dari sisi domestik, rupiah juga tertekan oleh perlambatan ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal III/2025 hanya 5,04%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. “Untuk mencapai target 5,2%, pemerintah harus mendorong pertumbuhan kuartal IV hingga 5,77–5,8%,” kata Ibrahim.
Dengan berbagai tekanan global dan ekonomi dalam negeri, rupiah berpotensi terperangkap di zona merah pada awal pekan depan, sementara pelaku pasar masih menanti arah kebijakan moneter The Fed dan perkembangan ekonomi global berikutnya.***









