Ini Bahayanya Bila Pertamina Setop Pasokan Solar ke PLN

Selasa, 12 Agustus 2014 09:55

BERTUAHPOS.COM, JAKARTA  -Hingga saat ini, isu harga pembelian solar dari PT Pertamina (Persero) untuk pembangkit listrik milik PT PLN (Persero) belum mencapai titik temu. Jika Pertamina sampai menghentikan pasokan solar, maka masyarakat yang akan menjadi korban.

Kepala Divisi Bahan Bakar Minyak dan Gas PLN Suryadi Mardjoeki mengungkapkan, ketergantungan solar untuk pembangkit listrik PLN masih cukup tinggi. Terutama untuk pembangkit di luar pulau Jawa.

“Ketergantungan BBM di pembangkit saat ini masih cukup tinggi, apalagi yang di luar Jawa. Tentunya jika Pertamina merealisasikan menghentikan pasokan solar ke seluruh PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) PLN, akan banyak sekali pemadaman listrik,” ucap Suryadi ketika dihubungi detikFinance, Selasa (12/8/2014).

Meski demikian, Suryadi yakin Pertamina tidak akan sampai menghentikan pasokan solar ke PLN. Dia optimistis masalah ini bisa segera terselesaikan.

Baca: Jeda siang (16/09/2013) IHSG Melompat 72 Poin

“Saya yakin nggak akan terjadi, Pertamina baik kok. Sekarang ini yang punya kuasa kan Menteri Keuangan, karena kalau harga solar dari Pertamina naik maka subsidi listrik akan membengkak. Saat ini Direktorat Jenderal Anggaran sedang membahas harga solarnya,” papar Suryadi.

Suryadi membantah Pertamina mengalami kerugian pada semester I-2014 sebesar US$ 45 juta karena memasok solar baik dalam bentuk HSD maupun MFO ke pembangkit listrik PLN.

“Hitungan kami, dengan harga solar 7,8% MoPS (Mean of Plats Singapore) Pertamina justru untung Rp 160 miliar. Tahun lalu juga mereka untung kok, nggak rugi,” ungkapnya.

Sementara Manajer Media Pertamina Adiatma Sardjito mengatakan, sampai saat ini belum ada kesepakatan harga soal harga solar dengan PLN.

“Pertamina sudah memberikan penawaran harga di bawah evaluasi BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan). Kita turunkan untuk HSD 108,8% MoPS dan MFO 110,2% MoPS untuk 2013, serta HSD 109,5% MoPS dan MFO 111% MoPS untuk 2014,” ungkapnya.

Adiatma mengatakan, pihaknya menyayangkan PLN hanya menyetujui harga HSD 109,5% MoPS dan MFO 111% MoPS untuk Juli-Desember 2014. Sedangkan harga periode 2013 dan Januari-Juni 2014 PLN tidak bersedia dengan harga baru. Padahal selama periode tersebut, Pertamina terus memberikan pasokan sesuai permintaan PLN dengan janji harga akan disesuaikan setelah ada kajian dari BPKP.

“Ini tentunya sangat ironis, karena disaat yang sama PLN mengklaim membukukan keuntungan Rp 12 triliun untuk semester I-2014. Sementara komitmen atas biaya BBM-nya tidak dilaksanakan,” tuturnya.(Detik)