Protokol Kesehatan Masih Jadi ‘Senjata Perang Andalan’ Melawan Covid-19

Kamis, 29 Juli 2021 13:01
Protokol Kesehatan Masih Jadi ‘Senjata Perang Andalan’ Melawan Covid-19

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Sudah lebih setahun pandemi Covid-19, telah banyak hal berubah. Orang – orang — mau tak mau — juga harus terbiasa dengan kebiasaan baru.

Memakai masker, menjaga jarak, tidak bersalaman dan berdiam diri di rumah adalah bukan kebiasaan masyarakat Indonesia yang sejak dulu menjunjung tinggi norma – norma adat dan etika.

Awal 2021 pemerintah telah menjalankan program vaksinasi. Tujuannya agar sesegera mungkin mencapai kekebalan komunal. Namun seiring berjalan waktu, tujuan itu masih belum tercapai. 

“Protokol kesehatan, hingga kini masih menjadi senjata perang andalan untuk melawan Covid-19,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Riau dokter Indra Yovi.

Baca: 70 Hotspot Muncul di Sumatera, 6 Terdeteksi di Riau

Rabu pagi, 21 Juli 2021, Heri (28), warga Kulim, Pekanbaru, tengah sibuk mempersiapkan segala keperluan. Pukul 08.00 WIB, dia sudah harus berada di kantor untuk absen.

Sekitar pukul 07.30 — setelah 15 menit memanaskan sepeda motor matic — dia pun tancap gas dari rumah. Baru saja keluar dari jalan kompleks perumahan, dia sadar kalau belum memakai masker.

“Ya balik lah. Saya tak bisa menjamin keamanan diri kalau tidak saya sendiri yang menjamin. Lagi pula, denda nggak pakai masker lebih mahal daripada nggak pakai helm,” tuturnya sambil bercanda.

Setelah berbalik mengambil masker, dengan sepeda motor metiknya, Heri melaju di tengah aspal yang sudah mulai ramai. Jarak dari rumah ke tempat kerja harus ditempuh sekitar setengah jam.

“Awal – awal pandemi memang agak canggung pakai masker. Kalau di Pekanbaru biasanya pas lagi musim kabut asap aja. Itu pun tidak ada penekanan harus pakai masker. Tapi sekarang, masker seperti kebutuhan. Ada yang kurang rasanya jika keluar rumah tidak pakai masker,” tuturnya bercerita kepada Bertuahpos.com, Jumat, 24 Juli 2021.

“Kalau handsanitizer selalu ada di tas. Itu sih yang wajib bagi saya kalau keluar rumah,” tuturnya.

Sebagai seorang yang bekerja di salah satu kantor pelayan publik, Heri sudah divaksin. Meski demikian, vaksin sejauh ini belum mampu memantapkan hatinya kalau dia bisa aman dari paparan corona.

Kata Heri, ada banyak orang yang sudah menerima vaksin, namun tetap bisa terpapar virus. “Kalau merasa sedikit lebih aman, iya. Setidaknya saya lebih aman jika terpapar virus. Namun tetap repot karena saya setelah bekerja kan pulang kerumah. Bertemu dengan anak, istri dan orang tua,” tuturnya.

Namun, cerita lain datang dari Akmal Maulana. Dia seorang wiraswasta di Pekanbaru. Dia mengaku memang agak kendor soal memakai masker. “Tapi kalau untuk cuci tangan dan jaga jarak tetap ketat bagi saya dan keluarga saya,” tuturnya sambil tertawa.

“Usaha saya di rumah. Jarang jumpa orang. Kalau saat bekerja pakai masker memang agak risih saya. Sesak nafas saya. Tapi saya pastikan kalau untuk yang lain lebih ketat,” tuturnya.

Pada tanggal 19 Juli 2021, beberapa keluarga dari kampung datang ke Pekanbaru untuk bersilaturahmi, kebetulan, momentum Idul Adha. Mengetahui beberapa keluarganya sudah dalam perjalanan ke Pekanbaru, Maulana, buru – buru memesan kamar hotel.

“Dengan kondisi seperti sekarang tidak mungkin saya menerima mereka menginap dan berbaur di rumah. Bagaimana dengan anak dan istri saya. Saya takut kalau imun mereka lagi lemah. Saya pesankan hotel, keluarga saya menginap di sana. Kami hanya beberapa kali berkunjung ke sana,” tuturnya.

Cerita Heri dan Akmal hanya sebagian kecil gambaran perilaku masyarakat di Pekanbaru dalam menyikapi pendemi Covid-19. Di luar sana, ada beragam persepsi tentang wabah ini, terutama tentang protokol kesehatan.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Riau dokter Indra Yovi menegaskan bahwa saat ini disiplin padsa protokol kesehatan masih menjadi senjata utama untuk melawan Covid-19.

“Capaian realisasi vaksinasi kita di daerah masih jauh, artinya kekebalan komunal yang kita harapkan masih dalam proses. Hal itu dapat dilihat dari berapa jumlah warga yang sudah divaksin dan berapa jumlah warga yang belum divaksinasi,” ucapnya.

Dia menjelaskan, khusus di Riau, kekebalan komunal baru bisa dicapai jika 70% dari jumlah penduduk Riau sudah divaksinasi. “Artinya sekitar 4,5 sampai 5 juta jiwa masyarakat Riau harus divaksin baru boleh kita merasa aman. Kalau belum, protokol kesehatan tetap tak boleh kendor,” jelasnya.

Ahli epidemiologi di Riau dokter Wildan Asfan Hasibuan juga menuturkan hal yang sama. Dalam kondisi seperti ini, dia meminta kepada masyarakat untuk bersabar dan saling mengerti satu sama lain. Selain mengetatkan protokol kesehatan, saling mengingatkan juga menjadi hal penting lainnya yang tak bisa dipisahkan.

“Kunci agar tidak terpapar covid-19, selain selalu ketat dengan protokol kesehatan, ya harus sama – sama saling menyadarkan. Ada teman atau keluarga kita yang tak pakai masker, ya memang selayaknya kita tegur. Itu bukan hanya untuk menjaga kita, tapi juga untuk menjaga diri dia,” tuturnya. (bpc2)