Ambruk Diterjang Banjir, Jembatan Besi di Desa Ini Tak Layak Dilewati

Selasa, 23 Februari 2016 10:01

BERTUAHPOS.COM (BPC), PEKANBARU – Musibah banjir yang menerjang sejumlah desa di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau akhir tahun 2015 lalu, masih menyisakan kesedihan bagi masyarakat yang bermukim di beberapa desa di Kecamatan itu.

Salah satu yang menjadi keluhan masyarakat saat ini, adalah jembatan penghubung dari Desa Lubuh Bigau ke desa Batu Sasak yang sempat terputus terseret arus. Ambruknya jembatan itu membuat kendaraan roda empat hanya bisa masuk hingga Desa Batu Sasak. Sementara, masih ada 4 desa lainnya menjadi terisolir.

Masyarakat desa itu mengeluhkan kondisi demikian membuat matinya perekonomian warga di 4 desa itu, yakni Desa Lubuk Bigau, Tanjung Permai, Pangkalan Kapas dan Kebun Tinggi.

Alfian, seorang warga yang tinggal di Desa Batu Sasak mengatakan, ambruknya jembatan penghubung ke 4 desa itu membuat masyarakat kesulitan membawa hasil panen karet mereka untuk dijual. Satu-satunya cara, terpaksa hasil panen karet masyarakat harus dilarikan ke Provinsi Sumatera Barat.

Baca: 290 Ribu Unit Rumah Subsidi Masih Tersedia Tahun 2017 Ini

“Toke yang biasa beli karet, akhirnya berhenti sementara, karena mereka juga tidak bisa bawa hasil alam itu keluar,” katanya.

Di lokasi tersebut, bertuahpos.com melihat langsung bagaimana kondisi jembatan tersebut. Besi penyangga jembatan yang menghubungkan antar bibir sungai patah, sehingga membuat kondisi jembatan itu bergeser dari pondasi utamanya. Selain miring, jembatan itu kini melengkung. Papan sebagai alas lantai jembatan hanyut terbawa arus deras. Beberapa waktu lalu, kata Alfian, masyarakat sama-masa turun ke lokasi untuk memperbaiki jembatan itu. Minimal bisa dilewati kendaraan roda dua.

Dari arah desa Batu Sasak menuju ke 4 desa yang terisolir, masyarakat menyusun papan ukuran lebih kurang 1 meter di bagian kiri jembatan, agar bisa dilewati kendaraan. Namun demikian kondisi tersebut masih tidak layak untuk dilalui. Sebab, kondisi jembatan tersebut sudah goyang.

“Masyarakat masih khawatir, sewaktu-waktu bisa saja jembatan itu ambruk dan hanyut,” kata Alfian. Jika sudah demikian, maka bisa dipastikan jalur melintas ke 4 desa tersebut tidak bisa dilewati. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh ke desa itu, yakni melewati Sumatra Barat.

Masyarakat desa tersebut berharap Pemerintah Kabupaten Kampar bisa segera melakukan perbaikan jembatan penghubung itu, agar aktiftas perekonomian masyarakat bisa kembali lancar. Kondisi tersebut sudah berlangsung hampir 4 bulan, sejak banjir itu melanda wilayah ini pada November 2015 lalu.

Penulis : Melba