• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Jumat, Oktober 23, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Bisnis Utama Kami Bukan Bertani, Tapi Mengolah Limbah Organik Jadi Pupuk Bernilai Guna

Rejo Farm Sleman mengubah limbah organik menjadi bisnis pertanian terintegrasi bernilai tinggi, dari pupuk, melon premium, hingga edukasi.

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
16 Januari 2026
Bisnis Utama Kami Bukan Bertani, Tapi Mengolah Limbah Organik Jadi Pupuk Bernilai Guna

Limbah organik yang diolah jadi pupuk bernilai guna | Foto: Tangkapan layar youtube Pecah Telur.

Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS — Di tengah persoalan limbah organik, ketergantungan impor pangan, dan minimnya minat generasi muda pada sektor pertanian, Rejo Farm Integrated Farming hadir sebagai model alternatif pembangunan pertanian berbasis sistem terintegrasi.

Berlokasi di Rejodani, Sleman, Yogyakarta, Rejo Farm mengembangkan konsep pertanian yang memadukan pengolahan limbah, budidaya, edukasi, hingga bisnis berorientasi pasar premium.

Rejo Farm didirikan oleh Dimas Christy Kusumaputra, seorang engineer yang tidak memiliki latar belakang pertanian. Bersama timnya, yang hampir seluruhnya juga berasal dari luar dunia pertanian, Dimas memulai perjalanan ini dari kegelisahan sosial, lingkungan, dan ekonomi yang ia lihat langsung di sekitarnya.

“Basis utama kami bukan bertani, tapi mengolah limbah organik,” kata Dimas. Limbah tersebut berasal dari kotoran ternak seperti sapi, kambing, dan ayam, limbah dapur, dedaunan, hingga limbah industri pangan seperti susu, roti, dan baglog jamur. Semua limbah itu diolah, difermentasi, dan dikonversi menjadi produk bernilai guna.

Limbah baglog jamur, misalnya, dikombinasikan dengan kotoran hewan lalu diproses melalui cacing atau fermentasi bakteri menjadi pupuk. Limbah susu dan roti difermentasi dan digiling menjadi pakan ternak untuk ikan dan unggas. Sekam padi yang melimpah di musim panen dibeli dalam jumlah besar untuk diolah menjadi bekatul, sementara jagung ditanam sendiri untuk melengkapi kebutuhan nutrisi pakan.

Konsep integrated farming ini tidak muncul secara instan. Sejak 2013, ide Rejo Farm berawal dari diskusi santai yang kemudian berlanjut pada praktik lapangan. Upaya awal menanam pepaya sempat berhasil dari sisi produksi, tetapi gagal secara bisnis karena permainan harga oleh pengepul. Budidaya lele pun menghadapi tantangan serupa akibat ketidakseimbangan antara harga pakan dan harga jual ikan.

Bisnis Utama Kami Bukan Bertani, Tapi Mengolah Limbah Organik Jadi Pupuk Bernilai Guna
Dimas Christy Kusumaputra, pendiiri Rejo Farm Integrated Farming.

Kondisi tersebut membuat Dimas dan tim menyadari satu hal penting: ketergantungan pada input eksternal membuat bisnis pertanian rapuh. Dari situlah lahir kesimpulan bahwa kemandirian harus dimulai dari bahan dasar, khususnya pupuk dan pakan.

Riset sederhana pun dilakukan. Hasilnya mengejutkan. Di Sleman saja, limbah organik tersedia dalam jumlah ribuan ton per tahun dan sebagian besar belum dikelola secara optimal. Fakta ini menjadi fondasi utama Rejo Farm untuk membangun sistem pertanian berbasis pengolahan limbah.

Pilihan untuk serius di sektor pertanian juga dilandasi realitas sosial. Minat anak muda untuk turun ke sawah semakin rendah, sementara lahan pertanian masih luas. Dimas menilai, jika pertanian dijalankan secara konvensional dengan ketergantungan pada pupuk dan input kimia, maka secara bisnis sulit menjanjikan keuntungan jangka panjang.

Pendekatan Rejo Farm kemudian berkembang ke budidaya hortikultura bernilai tinggi, seperti melon dan anggur. Tujuannya jelas: menyaingi buah impor dengan produk lokal berkualitas premium. Hasilnya, Rejo Farm mampu memproduksi melon dengan kualitas konsisten dan permintaan pasar yang terus meningkat.

Saat ini, permintaan melon Rejo Farm di wilayah Yogyakarta mencapai hampir 10 ton per minggu. Sementara itu, produksi ikan nila mampu menyuplai hingga 2 ton per hari. Angka ini menempatkan Rejo Farm bukan lagi sebagai usaha kecil, melainkan bisnis pertanian dengan skala industri.

Namun, skala besar menghadirkan tantangan baru. Produksi kontinu memicu munculnya penyakit endemik pada tanaman. Masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan pertanian konvensional. Rejo Farm pun menggandeng berbagai disiplin ilmu melalui kolaborasi dengan ITS, Telkom University, dan Telkom University Malaysia.

Menurut Dimas, pertanian modern membutuhkan keterlibatan ahli biologi, kimia, hingga teknik. Pengendalian bakteri, jamur, dan virus membutuhkan pendekatan ilmiah lintas disiplin. Sayangnya, masih sedikit lulusan biologi dan kimia yang mau terjun ke sektor pertanian, padahal potensi ekonomi dan dampak sosialnya sangat besar.

Bisnis Utama Kami Bukan Bertani, Tapi Mengolah Limbah Organik Jadi Pupuk Bernilai Guna
Peternakan ayam yang memanfaatkan limbah organik sebagai pakan di Rejo Farm Rejo Farm Integrated Farming.

Selain produksi, Rejo Farm juga mengembangkan lini edukasi. Banyak pihak yang ingin meniru model integrated farming, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Program edukasi ini menjadi bisnis tersendiri sekaligus sarana transfer pengetahuan bagi petani dan calon pelaku usaha.

Dari sisi produk, Rejo Farm mengembangkan pupuk organik cair (POC), NPK organik, dan media tanam. Dalam tahap transisi, penggunaan unsur kimia masih dipertahankan pada level 20–30 persen dosis, sembari terus melakukan riset menuju sistem organik penuh yang mencakup nutrisi, fungi, dan insektisida hayati.

Produk-produk tersebut tidak langsung dijual ke pasar luas. Rejo Farm memilih menggunakan hasil produksinya sendiri untuk budidaya melon dan komoditas lain. Strategi ini memudahkan adopsi teknologi sekaligus membuktikan efektivitas produk secara nyata.

Dimas menyebut, melon, cabai, tomat, dan komoditas lainnya hanyalah alat konversi. Tujuan utamanya adalah mengubah limbah menjadi sistem produksi bernilai tinggi. Dampaknya terasa di berbagai sektor: penciptaan lapangan kerja melalui konsep padat karya, pengurangan limbah organik, dan perputaran ekonomi yang besar.

Struktur manajemen Rejo Farm pun dibangun layaknya korporasi. Terdapat manajer operasional, infrastruktur, business development, keuangan dan HRD, hingga pascaproduksi. Total tim manajerial mencapai 16 orang, dengan sekitar 72 tenaga kerja terlibat langsung di lapangan.

Rejo Farm juga mengembangkan wisata edukasi, wisata petik, hingga konten edukatif berbasis proses pengolahan limbah dan pertanian. Menurut Dimas, anak muda sulit dinasihati, tetapi mudah terinspirasi. Ketika diberi contoh nyata, mereka akan bergerak dengan kreativitasnya sendiri.

Bagi Dimas, pertanian bukan sekadar aktivitas budidaya, melainkan bisnis dengan sistem autopilot jika fondasinya kuat. Ia menilai perputaran uang di sektor pertanian jauh lebih besar dibandingkan sektor ekstraktif seperti tambang dan migas.

“Kita ini negara agraris, tapi masih impor jahe ribuan ton per tahun,” ujarnya. Fakta ini menjadi ironi sekaligus peluang besar. Rejo Farm membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan akademisi, investor, hingga lembaga keuangan.

Perjalanan Dimas sendiri penuh kegagalan. Ia pernah gagal menanam cabai, melon, hingga budidaya lele. Namun baginya, kegagalan lebih baik daripada menganggur. Dari kondisi “minus”, ia membangun sistem yang kini menjadi rujukan pertanian terintegrasi.

Rejo Farm berdiri di atas masalah nyata: limbah, pengangguran, dan ketergantungan impor. Dari sanalah lahir model bisnis yang menggabungkan kepentingan sosial, lingkungan, dan ekonomi dalam satu sistem pertanian terintegrasi.***



Sumber: Youtube Pecah Telur
Tags: insightpertanianpeternakan
Share7Tweet5Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Krisis Air Terparah, Sri Lanka Siapkan Rencana Olah Air Laut
Internasional

Krisis Air Terparah, Sri Lanka Siapkan Rencana Olah Air Laut

...

Read moreDetails
Kolaborasi antara mahasiswa agroteknologi dan teknik elektro UIN Suska Riau berhasil menciptakan smart farming berbasis internet of thing untuk apotek hidup di lokasi KKN mereka.

Mahasiswa UIN Suska Riau Berhasil Kembangkan Teknologi Smart Farming IoT untuk Apotek Hidup di Lokasi KKN

Bapanas Siapkan 150.000 Ton Jagung SPHP untuk Tekan Biaya Pakan Peternak

Bapanas Siapkan 150.000 Ton Jagung SPHP untuk Tekan Biaya Pakan Peternak

RPB Inisiasi Gerakan Tanam 100 Ribu Bibit Cabai di Agustus Ini

RPB Inisiasi Gerakan Tanam 100 Ribu Bibit Cabai di Agustus Ini

Arsitek Respon soal Atap Seng Picu Kanker Paru-Paru

Arsitek Respon soal Atap Seng Picu Kanker Paru-Paru

Rumah Bambu Tahan Gempa yang Dirakit Seperti Lego

Rumah Bambu Tahan Gempa yang Dirakit Seperti Lego

Next Post
OJK Siap Gugat Perdata PT Dana Syariah Indonesia, Kerugian Lender Ditaksir Rp1,4 Triliun

OJK Siap Gugat Perdata PT Dana Syariah Indonesia, Kerugian Lender Ditaksir Rp1,4 Triliun

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.